Jumat, 19 Juni 2015

Together We Care Together We Share, Back to Campus

Assalamu'alaikum teman temaaan...


Alhamdulillah bulan Ramadhan telah tiba. Bulan dimana Allah melimpahkan rahmat berkali-kali lipat, bulan dimana waktu yang mumpuni banget buat berbagi kebaikan.

Soooo, seperti biasanya, Kebersamaan Negara 2006-2009 akan menyelenggarakan kegiatan tahunan yaitu Buka Puasa Bersama yang jadi ajang reuni sekaligus berbagi kepada yang membutuhkan. Yuk menengok sebentar ke satu tahun belakang ini, coba sama-sama merenung dan menghitung betapa buanyaaaaknya nikmat yang kita peroleh tahun ini, mulai dari nikmat waktu, nikmat sehat, rezeki materi, tahapan hidup yang baru (ada yang nikah *ciyeee Aje* ada yang mau lahiran *halo Widyaaa* ada yang punya anggota keluarga baru yang lucuu *uwel-uwek Adek Raisa* dan lain lain). Rasa syukur dan terima kasih sepatutnya kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa *ketuk ketuk mikrofon*. 

Sebagai salah satu wujud rasa syukur, yukkk berpartisipasi dalam kegiatan tahunan Kebersamaan Negara di Tahun 2015 ini. Tentu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, semuaaaa boleh ikut, ga terbatas penghuni manis Gedung F STAN dari tahun 2006-2009 saja. 


Project kita tahun ini adalah “Back to Campus”. Jika tahun-tahun sebelumnya kita berbagi kepada adik-adik Panti Asuhan dekat Pasar Rumput, Manggarai, adik-adik Sahabat Anak di Monas, adik-adik Panti Asuhan Remaja Masa Depan Tebet, adik-adik di Rumah Bimbel Senen, dan tahun kemarin kita berbagi kepada Oma dan Opa Panti Tresna Werdha Budi Mulia, tahun ini rencananya kita akan berbagi kepada adik-adik di sekitar kampus kita tercinta yaitu STAN ;). 



***********


Namanya Kak Oshin


Kak Oshin adalah pendiri Sahabat Bumi yang merupakan tempat belajar mengaji untuk anak-anak pemulung sekitar Sarmili. Kak Oshin memulai Sahabat Bumi pada tahun 2009. Untuk kegiatan Sahabat Bumi sendiri, pagi harinya digunakan untuk PAUD yang sudah mendapatkan izin dari Pemerintah, sore harinya untuk TPA, dan malamnya untuk kegiatan Tahfiz bagi anak-anak yang lebih besar. Luar biasanya lagi, seluruh kegiatan TPA dan Tahfiz bebas biaya karena pesertanya memang adik-adik di lapak. Kak Oshin dan suami dibantu oleh relawan-relawan yang menggawangi kegiatan ini. 
suasana kelas Sahabat Bumi



para relawan sedang mempersiapkan kegiatan wisuda Sahabat Bumi



 
Pernah dengar kisah tentang membekali seseorang bukan dengan ikan tapi dengan kail? Kurang lebih seperti itulah yang diupayakan oleh Kak Oshin. Adik-adik dengan segala keterbatasan yang tadinya memulung dan mengemis, sekarang sudah mau bersekolah. Temen-temen tentu paham sekali dan sudah menyaksikan banyak sekali kisah nyata bagaimana pendidikan mengubah hidup seseorang :’). Selain itu Kak Oshin juga mengirimkan adik-adik ke berbagai kompetisi dengan tujuan agar adik-adik mendapatkan pengalaman yang berharga dan memiliki mental yang bagus. Adik-adik yang tadinya memulung dan mengemis, tidak hanya kini mau bersekolah, tetapi juga memiliki segudang prestasi. Ada yang juara pidato, juara story telling, juara tahfiz dan lain sebagainya 

beberapa piala hasil prestasi adik-adik sahabat bumi

 
gambar dipinjam dari fp Sahabat Bumi

gambar dipinjam dari fp Sahabat Bumi

Beberapa anak bahkan tinggal sama Kak Oshin, syaratnya harus mau belajar, mau bersekolah, menghafalkan Al-Qur’an, serta mendoakan orang tua dan Kak Oshin (Masha Allah terharuuu).


Lantai 2 Rumah Kak Oshin

Kamar untuk adik-adik yang tinggal bersama Kak Oshin

Kembali ke Sahabat Bumi, di Sahabat Bumi ada 2 kelas yang digunakan untuk belajar yaitu Kelas A dan Kelas B. Lantai 2 saat ini sedang tahap pembangunan yang rencananya akan digunakan untuk kamar adik-adik yang tinggal bersama Kak Oshin. Kamar yang saat ini ditinggali adik-adik ukurannya kecil. Dengan segala keterbatasan yang ada Kak Oshin, suami, dan para relawan telah menjadi orang-orang yang mendatangkan manfaat yang luar biasa besar secara langsung bagi masa depan adik-adik (Amiiin) dan menjadi inspirasi buat kita semua.


Nah, yuk saatnya kita membantu. 

Bagaimana caranya?

Kita akan menyelenggarakan beberapa kegiatan bersama adik-adik dengan agenda bermain dan belajar bareng bareng. Selain berbagi kebahagiaan bersama adik-adik, kita juga berencana memberikan bantuan berupa materi. Seperti biasa temen-temen, kita akan mengumpulkan dana dengan cara iuran sekurang-kurangnya 100 ribu rupiah. Tapi kalo lebih mah sangat sangat sangat dianjurkan (hihihiiii). 


Untuk pembayarannya paling lambat tanggal 30 Juni 2015 yaa. Untuk transfer dan konfrimasi ke Reny Hennriyani dengan nomer rekening:
Mandiri 119 000 574 6159
BRI 0507 01 010639 500
Bank Syariah Mandiri  7086444032
Bank Muamalat 4340000089

Bagi yang sudah transfer mohon konfirmasinya ke 089682042194


Dananya akan kita gunakan untuk biaya buka puasa bersama, membeli beberapa peralatan yang dibutuhkan saat pelaksanaan acara, dan selebihnya akan diserahkan langsung kepada Kak Oshin. Selain iuran, temen-temen yang mau shodaqoh barang juga dipersilakan banget, mungkin bisa menyumbangkan Buku Bacaan untuk adik-adik (jangan bukunya Warren Reeve ya #krik), poster-poster belajar/gambar edukasi, mainan edukasi, peralatan mengaji, dan lain sebagainya yang kira-kira bisa digunakan oleh adik-adik di Sahabat Bumi. 

Kapan acaranya?

Sesuai dengan perundingan awal kita, kegiatan akan dilaksanakan Hari Minggu, 5 Juli 2015 di Sahabat Bumi.

For your information, tempatnya ramah anak jadi bisa tuh diajak junior-juniornya. Yuk kita ramaikan kegiatan ini.  Mohon disebarkan informasi ini. Kegiatan ini diperuntukkan bagi siapa saja, tidak hanya khusus temen-temen Kebendaharaan Negara 2006-2009. Siapa saja yang mau ikut berpartisipasi baik berupa shodaqoh uang, barang, atau ikut berkegiatan, please join us.

Untuk detail lokasinya, Dora kasih peta yaa

atau silakan buka location ini


Saran dan Kritik bisa disampaikan di grup whatsapp atau sms ke 08568784593

Together We Care
Together We Share

waktu pada masih kurus ;p

Assalamu'alaikum teman temaaan...


Alhamdulillah bulan Ramadhan telah tiba. Bulan dimana Allah melimpahkan rahmat berkali-kali lipat, bulan dimana waktu yang mumpuni banget buat berbagi kebaikan.

Soooo, seperti biasanya, Kebersamaan Negara 2006-2009 akan menyelenggarakan kegiatan tahunan yaitu Buka Puasa Bersama yang jadi ajang reuni sekaligus berbagi kepada yang membutuhkan. Yuk menengok sebentar ke satu tahun belakang ini, coba sama-sama merenung dan menghitung betapa buanyaaaaknya nikmat yang kita peroleh tahun ini, mulai dari nikmat waktu, nikmat sehat, rezeki materi, tahapan hidup yang baru (ada yang nikah *ciyeee Aje* ada yang mau lahiran *halo Widyaaa* ada yang punya anggota keluarga baru yang lucuu *uwel-uwek Adek Raisa* dan lain lain). Rasa syukur dan terima kasih sepatutnya kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa *ketuk ketuk mikrofon*. 

Sebagai salah satu wujud rasa syukur, yukkk berpartisipasi dalam kegiatan tahunan Kebersamaan Negara di Tahun 2015 ini. Tentu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, semuaaaa boleh ikut, ga terbatas penghuni manis Gedung F STAN dari tahun 2006-2009 saja. 


Project kita tahun ini adalah “Back to Campus”. Jika tahun-tahun sebelumnya kita berbagi kepada adik-adik Panti Asuhan dekat Pasar Rumput, Manggarai, adik-adik Sahabat Anak di Monas, adik-adik Panti Asuhan Remaja Masa Depan Tebet, adik-adik di Rumah Bimbel Senen, dan tahun kemarin kita berbagi kepada Oma dan Opa Panti Tresna Werdha Budi Mulia, tahun ini rencananya kita akan berbagi kepada adik-adik di sekitar kampus kita tercinta yaitu STAN ;). 



***********


Namanya Kak Oshin


Kak Oshin adalah pendiri Sahabat Bumi yang merupakan tempat belajar mengaji untuk anak-anak pemulung sekitar Sarmili. Kak Oshin memulai Sahabat Bumi pada tahun 2009. Untuk kegiatan Sahabat Bumi sendiri, pagi harinya digunakan untuk PAUD yang sudah mendapatkan izin dari Pemerintah, sore harinya untuk TPA, dan malamnya untuk kegiatan Tahfiz bagi anak-anak yang lebih besar. Luar biasanya lagi, seluruh kegiatan TPA dan Tahfiz bebas biaya karena pesertanya memang adik-adik di lapak. Kak Oshin dan suami dibantu oleh relawan-relawan yang menggawangi kegiatan ini. 
suasana kelas Sahabat Bumi



para relawan sedang mempersiapkan kegiatan wisuda Sahabat Bumi



 
Pernah dengar kisah tentang membekali seseorang bukan dengan ikan tapi dengan kail? Kurang lebih seperti itulah yang diupayakan oleh Kak Oshin. Adik-adik dengan segala keterbatasan yang tadinya memulung dan mengemis, sekarang sudah mau bersekolah. Temen-temen tentu paham sekali dan sudah menyaksikan banyak sekali kisah nyata bagaimana pendidikan mengubah hidup seseorang :’). Selain itu Kak Oshin juga mengirimkan adik-adik ke berbagai kompetisi dengan tujuan agar adik-adik mendapatkan pengalaman yang berharga dan memiliki mental yang bagus. Adik-adik yang tadinya memulung dan mengemis, tidak hanya kini mau bersekolah, tetapi juga memiliki segudang prestasi. Ada yang juara pidato, juara story telling, juara tahfiz dan lain sebagainya 

beberapa piala hasil prestasi adik-adik sahabat bumi

 
gambar dipinjam dari fp Sahabat Bumi

gambar dipinjam dari fp Sahabat Bumi

Beberapa anak bahkan tinggal sama Kak Oshin, syaratnya harus mau belajar, mau bersekolah, menghafalkan Al-Qur’an, serta mendoakan orang tua dan Kak Oshin (Masha Allah terharuuu).


Lantai 2 Rumah Kak Oshin

Kamar untuk adik-adik yang tinggal bersama Kak Oshin

Kembali ke Sahabat Bumi, di Sahabat Bumi ada 2 kelas yang digunakan untuk belajar yaitu Kelas A dan Kelas B. Lantai 2 saat ini sedang tahap pembangunan yang rencananya akan digunakan untuk kamar adik-adik yang tinggal bersama Kak Oshin. Kamar yang saat ini ditinggali adik-adik ukurannya kecil. Dengan segala keterbatasan yang ada Kak Oshin, suami, dan para relawan telah menjadi orang-orang yang mendatangkan manfaat yang luar biasa besar secara langsung bagi masa depan adik-adik (Amiiin) dan menjadi inspirasi buat kita semua.


Nah, yuk saatnya kita membantu. 

Bagaimana caranya?

Kita akan menyelenggarakan beberapa kegiatan bersama adik-adik dengan agenda bermain dan belajar bareng bareng. Selain berbagi kebahagiaan bersama adik-adik, kita juga berencana memberikan bantuan berupa materi. Seperti biasa temen-temen, kita akan mengumpulkan dana dengan cara iuran sekurang-kurangnya 100 ribu rupiah. Tapi kalo lebih mah sangat sangat sangat dianjurkan (hihihiiii). 


Untuk pembayarannya paling lambat tanggal 30 Juni 2015 yaa. Untuk transfer dan konfrimasi ke Reny Hennriyani dengan nomer rekening:
Mandiri 119 000 574 6159
BRI 0507 01 010639 500
Bank Syariah Mandiri  7086444032
Bank Muamalat 4340000089

Bagi yang sudah transfer mohon konfirmasinya ke 089682042194


Dananya akan kita gunakan untuk biaya buka puasa bersama, membeli beberapa peralatan yang dibutuhkan saat pelaksanaan acara, dan selebihnya akan diserahkan langsung kepada Kak Oshin. Selain iuran, temen-temen yang mau shodaqoh barang juga dipersilakan banget, mungkin bisa menyumbangkan Buku Bacaan untuk adik-adik (jangan bukunya Warren Reeve ya #krik), poster-poster belajar/gambar edukasi, mainan edukasi, peralatan mengaji, dan lain sebagainya yang kira-kira bisa digunakan oleh adik-adik di Sahabat Bumi. 

Kapan acaranya?

Sesuai dengan perundingan awal kita, kegiatan akan dilaksanakan Hari Minggu, 5 Juli 2015 di Sahabat Bumi.

For your information, tempatnya ramah anak jadi bisa tuh diajak junior-juniornya. Yuk kita ramaikan kegiatan ini.  Mohon disebarkan informasi ini. Kegiatan ini diperuntukkan bagi siapa saja, tidak hanya khusus temen-temen Kebendaharaan Negara 2006-2009. Siapa saja yang mau ikut berpartisipasi baik berupa shodaqoh uang, barang, atau ikut berkegiatan, please join us.

Untuk detail lokasinya, Dora kasih peta yaa

atau silakan buka location ini


Saran dan Kritik bisa disampaikan di grup whatsapp atau sms ke 08568784593

Together We Care
Together We Share

waktu pada masih kurus ;p

Minggu, 15 Februari 2015

Sukarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Saya dulu suka sejarah. Bagaimana tidak, membaca sejarah sama dengan membaca cerita. Namun saya berhenti suka sejarah sejak angka turut campur. Dan angka-angka itu tidak bisa diabaikan begitu saja karena rupanya angka-angka dalam sejarah menjadi favorit guru-guru dalam mengajukan pertanyaan dalam ulangan. -____-

Saya suka baca, tapi jarang sekali baca buku yang "serius". Hampir semua buku saya adalah novel. Dan sejarah tidak masuk dalam keluarga besar rak buku saya. Kemarin, waktu baca majalah Tempo yang tentang Cindy Adams, saya jadi tertarik dengan satu-satunya otobiografi tentang Sukarno yang dikisahkan lewat Cindy Adams. 


Saya lahir jauuuuuh setelah era Sukarno (yaiyalah). Tapi dari kecil pun saya ngerasa, bahwa Bung Karno adalah sosok yang sangat kharismatik. Paling kharismatik kalau boleh dibilang, sampe sekarang saya rasa belum ada yang bisa menandinginya di Indonesia. Kharisma seorang Sukarno melintasi generasi. Puluhan tahun setelah beliau wafatpun, masih banyak yang mengisahkan Sukarno dengan wajah kagum. 

Tentu saja saya tahu tentang sejarah Bung Karno sebatas dari buku pelajaran sejarah saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Maka menjadi menarik sekali ketika membaca buku ini. Bukan berarti saya serta merta mempercayai apa yang terjadi disitu. Tapi menarik ketika kita membaca sebuah peristiwa dari SUDUT PANDANG seorang Sukarno. Mengamati peristiwa benar-benar dari sudut pandang yang lain dari biasanya. 

Buku ini ditulis oleh Cindy Adams, seorang jurnalis yang dipilih oleh Sukarno ketika beliau bersedia menuliskan biografi. Berbagai macam dituangkan dalam buku ini. Bagaimana sebenarnya Sukarno memandang Barat dan sikapnya yang terkesan anti Barat dan pro Komunis. Penjelasan Sukarno bagaimana tidak mungkin dirinya dengan segala prinsip hidup yang dimilikinya menjadi seorang komunis. Mengapa ia mnis terhadap Uni Soviet dan RRC. Kekecewaannya terhadap pers Barat (yang bikin saya berkali-kali baca sambil googling). Sukarno menolak rasa rendah diri bangsa pribumi akibat penjajahan dan perlakuan Belanda terhadap rakyat Indonesia. Buat saya banyak fakta yang cukup mengejutkan yang ada di buku ini. And he even read Vogue!!! Dengan "nggumun"nya baru tau tentang Sarinah dan nilai-nilai yang ditanamkan serta petani bernama Marhaen. Mengapa ia memakai peci, mengapa ia senang memakai uniform, dan fakta-fakta lain yang baru saya tahu. Termasuk menjelaskan kecintaannya terhadap perempuan. 

Salah satu quote yang saya sukai adalah ketika Sukarno secara resmi berhak menyandang gelar Ingenieur, rektornya berkata "Ir. Sukarno, ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi. Ingatlah, bahwa satu-satunya hal yang abadi adalah karakter dari seseorang. Kenangan terhadp karakter itu akan tetap hidup, sekalipun ia mati". Dan itu terbukti.....


Sukarno banyak menulis tentang hukuman pengasingan yang ia terima. Sunggu pengasingan merupakan sesuatu yang berat untuk manusia. Karena pengisolasian manusia dapat mengakibatkan banyak hal mengerikan. Tapi entah kalo sekarang ya, mungkin pengasingan bukan hal yang berat lagi asal koneksi internet lancar ;p

Dalam pengasingannya di Sukamiskinlah Sukarno semakin belajar dan memahami Tuhan serta agama. Di Flores, Sukarno membersihkan diri dari segala tahyul. Di flores pulalah, di depan rumah pengasingannya di bawah pohon sukun, Sukarno merumuskan dasar negara Indonesia. Sukarno sang singa podium yang tidak menangis ketika diasingkan dan dihina, dipenjara, ketika orang tuanya sakit, dan ia menangis ketika PNI yang dibesarkan bagai anaknya sendiri terpecah. Saya bertanya-tanya, bagaimana bila beliau melihat kondisi Indonesia sekarang.

Ada juga proses sidang BPUPKI ketika ia berpidato tentang dasar negara, tentang Pancasila. Coba saya baca buku ini sebelum UPKP. Kan gak bakal bingung pas baca Pancasila tiba-tiba jadi Ekasila yang mana ekasilanya jadi gotong royong. Yaaaa bukan berarti bakalan lulus UPKP juga sih kalo baca buku ini duluan :)))

Sama seperti sejarah Indonesia, buku ini membawa ritme perlahan kemudian semakin menegang dan puncaknya adalah peristiwa penculikan hingga Sukarno Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian beranjak ke revolusi, berbagai perjanjian, berbagai peristiwa berdarah pasca kemerdekaan. Disini saya membaca sudut pandang Sukarno tentang perekonomian Indonesia yang carut marut, tentang berbagai mega proyek, tentang kecintaannya terhadap wanita. Selama ini banyak sekali pandangan tentang Bung Karno, namun bahkan sebelum membaca buku ini saya tahu bahwa seorang Sukarno adalah seorang yang sangat mencintai negaranya. Mencintai negaranya dengan caranya yang mungkin kadang salah.

Buku ini ditulis ketika Sukarno masih menjabat sebagai presiden, sebelum peristiwa tahun 1965. Membaca refleksi akhir di buku ini rasanya begitu haru. Pada akhir buku dilampirkan foto-foto Sukarno pada berbagai peristiwa hidupnya. Dan tiba-tiba saja saya menangis melihat buku ini ditutup dengan foto terakhir Sukarno yang sakit sebelum meninggal sebagai tahanan politik........

Sukarno Muda
Sang Singa Podium. Kekuatan kata-katanya memang luar biasa.
Sukarno dan Agus Salim yang diasingkan di Brastagi
Sukarno di Bangka saat pengasingan
Sukarno saat bertemu dengan Sudirman setelah perjuangan panjang dan Presiden RI kembali ke Ibukota Jogja. Ini udah mulai kebelet nangis liatnya
Liat foto ini entah kenapa tiba-tiba mbrebes mili....

Pada akhirnya saya bertanya-tanya kira-kira kalo kita tetap dijajah Belanda dan tidak merdeka, tetap menjadi koloni Belanda, apakah kondisi negeri ini akan lebih buruk atau lebih baik dari sekarang? Entahlah...........

p.s. : Sebagian foto diambil dari berbagai sumber, sebagian saya ambil sendiri.



Saya dulu suka sejarah. Bagaimana tidak, membaca sejarah sama dengan membaca cerita. Namun saya berhenti suka sejarah sejak angka turut campur. Dan angka-angka itu tidak bisa diabaikan begitu saja karena rupanya angka-angka dalam sejarah menjadi favorit guru-guru dalam mengajukan pertanyaan dalam ulangan. -____-

Saya suka baca, tapi jarang sekali baca buku yang "serius". Hampir semua buku saya adalah novel. Dan sejarah tidak masuk dalam keluarga besar rak buku saya. Kemarin, waktu baca majalah Tempo yang tentang Cindy Adams, saya jadi tertarik dengan satu-satunya otobiografi tentang Sukarno yang dikisahkan lewat Cindy Adams. 


Saya lahir jauuuuuh setelah era Sukarno (yaiyalah). Tapi dari kecil pun saya ngerasa, bahwa Bung Karno adalah sosok yang sangat kharismatik. Paling kharismatik kalau boleh dibilang, sampe sekarang saya rasa belum ada yang bisa menandinginya di Indonesia. Kharisma seorang Sukarno melintasi generasi. Puluhan tahun setelah beliau wafatpun, masih banyak yang mengisahkan Sukarno dengan wajah kagum. 

Tentu saja saya tahu tentang sejarah Bung Karno sebatas dari buku pelajaran sejarah saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Maka menjadi menarik sekali ketika membaca buku ini. Bukan berarti saya serta merta mempercayai apa yang terjadi disitu. Tapi menarik ketika kita membaca sebuah peristiwa dari SUDUT PANDANG seorang Sukarno. Mengamati peristiwa benar-benar dari sudut pandang yang lain dari biasanya. 

Buku ini ditulis oleh Cindy Adams, seorang jurnalis yang dipilih oleh Sukarno ketika beliau bersedia menuliskan biografi. Berbagai macam dituangkan dalam buku ini. Bagaimana sebenarnya Sukarno memandang Barat dan sikapnya yang terkesan anti Barat dan pro Komunis. Penjelasan Sukarno bagaimana tidak mungkin dirinya dengan segala prinsip hidup yang dimilikinya menjadi seorang komunis. Mengapa ia mnis terhadap Uni Soviet dan RRC. Kekecewaannya terhadap pers Barat (yang bikin saya berkali-kali baca sambil googling). Sukarno menolak rasa rendah diri bangsa pribumi akibat penjajahan dan perlakuan Belanda terhadap rakyat Indonesia. Buat saya banyak fakta yang cukup mengejutkan yang ada di buku ini. And he even read Vogue!!! Dengan "nggumun"nya baru tau tentang Sarinah dan nilai-nilai yang ditanamkan serta petani bernama Marhaen. Mengapa ia memakai peci, mengapa ia senang memakai uniform, dan fakta-fakta lain yang baru saya tahu. Termasuk menjelaskan kecintaannya terhadap perempuan. 

Salah satu quote yang saya sukai adalah ketika Sukarno secara resmi berhak menyandang gelar Ingenieur, rektornya berkata "Ir. Sukarno, ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi. Ingatlah, bahwa satu-satunya hal yang abadi adalah karakter dari seseorang. Kenangan terhadp karakter itu akan tetap hidup, sekalipun ia mati". Dan itu terbukti.....


Sukarno banyak menulis tentang hukuman pengasingan yang ia terima. Sunggu pengasingan merupakan sesuatu yang berat untuk manusia. Karena pengisolasian manusia dapat mengakibatkan banyak hal mengerikan. Tapi entah kalo sekarang ya, mungkin pengasingan bukan hal yang berat lagi asal koneksi internet lancar ;p

Dalam pengasingannya di Sukamiskinlah Sukarno semakin belajar dan memahami Tuhan serta agama. Di Flores, Sukarno membersihkan diri dari segala tahyul. Di flores pulalah, di depan rumah pengasingannya di bawah pohon sukun, Sukarno merumuskan dasar negara Indonesia. Sukarno sang singa podium yang tidak menangis ketika diasingkan dan dihina, dipenjara, ketika orang tuanya sakit, dan ia menangis ketika PNI yang dibesarkan bagai anaknya sendiri terpecah. Saya bertanya-tanya, bagaimana bila beliau melihat kondisi Indonesia sekarang.

Ada juga proses sidang BPUPKI ketika ia berpidato tentang dasar negara, tentang Pancasila. Coba saya baca buku ini sebelum UPKP. Kan gak bakal bingung pas baca Pancasila tiba-tiba jadi Ekasila yang mana ekasilanya jadi gotong royong. Yaaaa bukan berarti bakalan lulus UPKP juga sih kalo baca buku ini duluan :)))

Sama seperti sejarah Indonesia, buku ini membawa ritme perlahan kemudian semakin menegang dan puncaknya adalah peristiwa penculikan hingga Sukarno Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian beranjak ke revolusi, berbagai perjanjian, berbagai peristiwa berdarah pasca kemerdekaan. Disini saya membaca sudut pandang Sukarno tentang perekonomian Indonesia yang carut marut, tentang berbagai mega proyek, tentang kecintaannya terhadap wanita. Selama ini banyak sekali pandangan tentang Bung Karno, namun bahkan sebelum membaca buku ini saya tahu bahwa seorang Sukarno adalah seorang yang sangat mencintai negaranya. Mencintai negaranya dengan caranya yang mungkin kadang salah.

Buku ini ditulis ketika Sukarno masih menjabat sebagai presiden, sebelum peristiwa tahun 1965. Membaca refleksi akhir di buku ini rasanya begitu haru. Pada akhir buku dilampirkan foto-foto Sukarno pada berbagai peristiwa hidupnya. Dan tiba-tiba saja saya menangis melihat buku ini ditutup dengan foto terakhir Sukarno yang sakit sebelum meninggal sebagai tahanan politik........

Sukarno Muda
Sang Singa Podium. Kekuatan kata-katanya memang luar biasa.
Sukarno dan Agus Salim yang diasingkan di Brastagi
Sukarno di Bangka saat pengasingan
Sukarno saat bertemu dengan Sudirman setelah perjuangan panjang dan Presiden RI kembali ke Ibukota Jogja. Ini udah mulai kebelet nangis liatnya
Liat foto ini entah kenapa tiba-tiba mbrebes mili....

Pada akhirnya saya bertanya-tanya kira-kira kalo kita tetap dijajah Belanda dan tidak merdeka, tetap menjadi koloni Belanda, apakah kondisi negeri ini akan lebih buruk atau lebih baik dari sekarang? Entahlah...........

p.s. : Sebagian foto diambil dari berbagai sumber, sebagian saya ambil sendiri.



Sabtu, 14 Februari 2015

27

Lebih dari sebulan yang lalu, saya berumur 27. Hooooo my God, dua tujuuuuuh. Entah kenapa alam bawah sadar saya menganggap kalo usia 27 itu  bener-bener gerbang menuju fase dewasa. Emang selama ini ga dewasa? Yaaa, seumur ini masih ngerasa mau ikut ekskul Pramuka ama main teater sih :)). Kedewasaan ga bisa dikotak-kotakkan. Ada beberapa hal yang harus disikapi dengan "dewasa" oleh manusia umur berapapun. Masalah agama misalkan. Sebaliknya, ada beberapa hal yang boleh dilakukan oleh manusia usia berapapun. Selera misalkan ;p. Usia berapapun mah sah sah aja pake sneaker warna warni atau baca komik, haha. Dari dulu memang ngerasa kalo angka 27 tahun itu saatnya bilang "waduh, tuwek aku :)))". Sudah saatnya berpikir secara serius.

Bukan tentang pencapaian. Menurut saya, pencapaian bukan sebuah obyek yang bisa dibanding-bandingkan antara satu dengan lainnya. Tidak ada indikator yang benar-benar pas untuk membandingkan pencapaian masing-masing orang. Karena di dalamnya ada campur tangan takdir. Tugas kita sebagai manusia cuma berusaha sekuat mungkin dengan segala kondisinya untuk berbuat semaksimal mungkin di setiap tahapan hidup masing-masing. Satu-satunya pencapaian dapat dibandingkan adalah dengan dirinya sendiri di masa lalu. Tidak, saya merasa harus benar-benar berpikir serius tentang karir, kehidupan keluarga, finansial, tapi ini tentang...................FISIK!!!! Hahaha!!!

Yang bener-bener gak bisa boong sama umur 27 itu fisik! Selera musik, buku, tontonan mungkin masih samalah ya ama pas awal-awal umur 20an. Yang berubah itu fisik dengan segala bentuk dan kemampuannya, wuakakakak.

Yang benar-benar saya sesali sekarang adalah keputusan awal-awal kuliah untuk bikin program biar badan lebih berisi, haha. Dulu tiap beli jam tangan, harus nambah lubang di talinya biar bisa dipake. Awal kuliah bobot sekitar 40-42 mbulet gak karuan. Akhirnya karena merasa kurus, saya bikin target lulus kuliah berat badan harus kelapa 5! Saya jadi los banget makannya. Apa-apa dimakan, apa-apa dicemilin. Ditambah wajah sumringah orang tua pas liat anak gadisnya yang merantau, pas pulang agak gendutan. Katanya berarti di rantau si anak gadis gak kurang makan dan ayem hidupnya. Apalagi pas kena tipes sama demam berdarah. Rasa-rasanya paling takut laper deh. Jadi kemampuan saya dalam hal makan banyak semakin terasah XD. Target naik 10 kilogram tercapai dengan mudah.

Pas mulai kerja, semakin menjadi. Si anak magang yang dapet honor 850.000 dan 650.000nya buat bayar kosan, makanan gratis apalagi enak dan mahal adalah sesuatu yang pantang dilewatkan. Kalo dulu butuh waktu 3 tahun naik 10 kilo, jaman kerja ga ada 1,5 tahun udah naik 10 kilo. Pas hamil sebenernya ga banyak-banyak naiknya. Begitu menyusui, beuhhh, naik mulu beratnya. Menyusui bocah 18 bulan nafsu makannya sama kayak nyusuin bocah 3 bulan. Nah, total jendral kenaikan berat badan yang lebih dari seperempat kwintal itu aweeeeeet kayak formalin sampe sekarang. Dan di umur-umur sekarang itu susyeeeeeh bener turun berat badan. Bukan apa-apa, sekarang banyakkkk banget baju baju yang ditaksir ga bisa dipake karna GAK MUAT!!! Hahaha. Belum lagi ini perut buncit bangetttt. Udah kayak orang hamil 4 bulan. Udah sering banget dikira hamil, dari stakeholder kantor ampe petugas KRL cobaaaa. Keki bok kekiiiii.

Mulai parno juga soal makanan. Dulu jaman orang tua kita masih muda, dunia kuliner masih belum seheboh sekarang. Jangankan jaman orang tua masih muda, jaman saya kecil aja saya inget, makan ayam paling sebulan berapa kali doang. Sekarang bisa 3 kali makan ada ayamnya, Menu makanan jaman bapak ibuk muda pasti jauuuh lebih sehat dari makanan pada umumnya sekarang. Mulai takut karna saya suka banget jajan, sering makan daging dibanding sayur ama buah, sering jajan makanan berproses, sering minum-minuman dingin manis. Udah takut sakit. Semakin sering denger orang (baik kenal ato gak kenal) under 30 yang sakit diabetes, jantung atau ginjal. Serem sekali. Tapi ya gitu, tekad makan sehat secara benarpun suka melempem.

Yang paling jleb moment itu pas dipijet kemarin. Ceritanya kan Agustus kemarin saya ikut diklat. Biasalah, namanya acara diklat pasti ada sesi foto-foto. Dan pada sesi foto-foto selalu ada pose sejuta umat yaitu pose loncat. Abis loncat itu kaki kiri saya sakit. Karna ga bengkak ya saya biarin aja. Pikirnya kalo ga bengkak ya ga keseleo. Makin lama makin sakit, sampe pincang gitu. Tapi ga bengkak. Dan kalo dipake jalan terus lama-lama sakitnya gak kerasa. Yo wes. Makin lama makin ganggu karna saya jadi males jalan jauh soalnya kaki sakit, dan malahan saya gak sanggup olahraga (alasan ;p). Desember kemarin pun saya pijet ke tukang urut di Malang. Dibilangnya terkilir tapi yang udah akut. Masih belum sembuh, Januari kemarin saya ulangin pijetnya. Katanya urat kerasnya ampe segede jempol. Ampun itu sakitnyaaaaa. Ibuk saya heran, kenapa ampe dibiarin gitu ampe berbulan bulan, jadinya dipijet ampe sakit banget gitu. Saya pun cerita kalo sebenernya SMA udah pernah terkilir, gak pake pijet tapi gak papa, malah masih bisa dipake ngapa-ngapain, ampe naik gunung juga. Dibilang ama tukang urutnya "Iya mbaaaak, emang udah UMUR ya gitu". KEBAYANG DONG DIKATAIN UMUR SAMA BUDHE BUDHE. ISIN REKKKK, HAHAHAHA.

Saya pun semakin menyadari kalo di umur yang segini itu bener-bener harus mikirin kesehatan. Bukan berarti di umur sebelum itu boleh cuek sama kesehatan yaa (dikatakan oleh orang yang doyan makan ati ampela, jajan bebek, makan sum sum dan sebangsanya ;p). Tanda-tanda fisik di usia ini bener-bener harus diperhatikan. Doakeunlah pemirsa, semoga kita semua sehat wal'afiat selamanya, semoga paha perut dan lengan saya kempes, biar dress-dress cantik, celana-celana chic dan baju-baju lucu itu bisa dipake tanpa terlihat seperti lepet.


pengennya sih kayak Tante Jen yang tetep kece banget di umur 46 taun. 46 TAHUN!!! Gambar dipinjem dari sini


Lebih dari sebulan yang lalu, saya berumur 27. Hooooo my God, dua tujuuuuuh. Entah kenapa alam bawah sadar saya menganggap kalo usia 27 itu  bener-bener gerbang menuju fase dewasa. Emang selama ini ga dewasa? Yaaa, seumur ini masih ngerasa mau ikut ekskul Pramuka ama main teater sih :)). Kedewasaan ga bisa dikotak-kotakkan. Ada beberapa hal yang harus disikapi dengan "dewasa" oleh manusia umur berapapun. Masalah agama misalkan. Sebaliknya, ada beberapa hal yang boleh dilakukan oleh manusia usia berapapun. Selera misalkan ;p. Usia berapapun mah sah sah aja pake sneaker warna warni atau baca komik, haha. Dari dulu memang ngerasa kalo angka 27 tahun itu saatnya bilang "waduh, tuwek aku :)))". Sudah saatnya berpikir secara serius.

Bukan tentang pencapaian. Menurut saya, pencapaian bukan sebuah obyek yang bisa dibanding-bandingkan antara satu dengan lainnya. Tidak ada indikator yang benar-benar pas untuk membandingkan pencapaian masing-masing orang. Karena di dalamnya ada campur tangan takdir. Tugas kita sebagai manusia cuma berusaha sekuat mungkin dengan segala kondisinya untuk berbuat semaksimal mungkin di setiap tahapan hidup masing-masing. Satu-satunya pencapaian dapat dibandingkan adalah dengan dirinya sendiri di masa lalu. Tidak, saya merasa harus benar-benar berpikir serius tentang karir, kehidupan keluarga, finansial, tapi ini tentang...................FISIK!!!! Hahaha!!!

Yang bener-bener gak bisa boong sama umur 27 itu fisik! Selera musik, buku, tontonan mungkin masih samalah ya ama pas awal-awal umur 20an. Yang berubah itu fisik dengan segala bentuk dan kemampuannya, wuakakakak.

Yang benar-benar saya sesali sekarang adalah keputusan awal-awal kuliah untuk bikin program biar badan lebih berisi, haha. Dulu tiap beli jam tangan, harus nambah lubang di talinya biar bisa dipake. Awal kuliah bobot sekitar 40-42 mbulet gak karuan. Akhirnya karena merasa kurus, saya bikin target lulus kuliah berat badan harus kelapa 5! Saya jadi los banget makannya. Apa-apa dimakan, apa-apa dicemilin. Ditambah wajah sumringah orang tua pas liat anak gadisnya yang merantau, pas pulang agak gendutan. Katanya berarti di rantau si anak gadis gak kurang makan dan ayem hidupnya. Apalagi pas kena tipes sama demam berdarah. Rasa-rasanya paling takut laper deh. Jadi kemampuan saya dalam hal makan banyak semakin terasah XD. Target naik 10 kilogram tercapai dengan mudah.

Pas mulai kerja, semakin menjadi. Si anak magang yang dapet honor 850.000 dan 650.000nya buat bayar kosan, makanan gratis apalagi enak dan mahal adalah sesuatu yang pantang dilewatkan. Kalo dulu butuh waktu 3 tahun naik 10 kilo, jaman kerja ga ada 1,5 tahun udah naik 10 kilo. Pas hamil sebenernya ga banyak-banyak naiknya. Begitu menyusui, beuhhh, naik mulu beratnya. Menyusui bocah 18 bulan nafsu makannya sama kayak nyusuin bocah 3 bulan. Nah, total jendral kenaikan berat badan yang lebih dari seperempat kwintal itu aweeeeeet kayak formalin sampe sekarang. Dan di umur-umur sekarang itu susyeeeeeh bener turun berat badan. Bukan apa-apa, sekarang banyakkkk banget baju baju yang ditaksir ga bisa dipake karna GAK MUAT!!! Hahaha. Belum lagi ini perut buncit bangetttt. Udah kayak orang hamil 4 bulan. Udah sering banget dikira hamil, dari stakeholder kantor ampe petugas KRL cobaaaa. Keki bok kekiiiii.

Mulai parno juga soal makanan. Dulu jaman orang tua kita masih muda, dunia kuliner masih belum seheboh sekarang. Jangankan jaman orang tua masih muda, jaman saya kecil aja saya inget, makan ayam paling sebulan berapa kali doang. Sekarang bisa 3 kali makan ada ayamnya, Menu makanan jaman bapak ibuk muda pasti jauuuh lebih sehat dari makanan pada umumnya sekarang. Mulai takut karna saya suka banget jajan, sering makan daging dibanding sayur ama buah, sering jajan makanan berproses, sering minum-minuman dingin manis. Udah takut sakit. Semakin sering denger orang (baik kenal ato gak kenal) under 30 yang sakit diabetes, jantung atau ginjal. Serem sekali. Tapi ya gitu, tekad makan sehat secara benarpun suka melempem.

Yang paling jleb moment itu pas dipijet kemarin. Ceritanya kan Agustus kemarin saya ikut diklat. Biasalah, namanya acara diklat pasti ada sesi foto-foto. Dan pada sesi foto-foto selalu ada pose sejuta umat yaitu pose loncat. Abis loncat itu kaki kiri saya sakit. Karna ga bengkak ya saya biarin aja. Pikirnya kalo ga bengkak ya ga keseleo. Makin lama makin sakit, sampe pincang gitu. Tapi ga bengkak. Dan kalo dipake jalan terus lama-lama sakitnya gak kerasa. Yo wes. Makin lama makin ganggu karna saya jadi males jalan jauh soalnya kaki sakit, dan malahan saya gak sanggup olahraga (alasan ;p). Desember kemarin pun saya pijet ke tukang urut di Malang. Dibilangnya terkilir tapi yang udah akut. Masih belum sembuh, Januari kemarin saya ulangin pijetnya. Katanya urat kerasnya ampe segede jempol. Ampun itu sakitnyaaaaa. Ibuk saya heran, kenapa ampe dibiarin gitu ampe berbulan bulan, jadinya dipijet ampe sakit banget gitu. Saya pun cerita kalo sebenernya SMA udah pernah terkilir, gak pake pijet tapi gak papa, malah masih bisa dipake ngapa-ngapain, ampe naik gunung juga. Dibilang ama tukang urutnya "Iya mbaaaak, emang udah UMUR ya gitu". KEBAYANG DONG DIKATAIN UMUR SAMA BUDHE BUDHE. ISIN REKKKK, HAHAHAHA.

Saya pun semakin menyadari kalo di umur yang segini itu bener-bener harus mikirin kesehatan. Bukan berarti di umur sebelum itu boleh cuek sama kesehatan yaa (dikatakan oleh orang yang doyan makan ati ampela, jajan bebek, makan sum sum dan sebangsanya ;p). Tanda-tanda fisik di usia ini bener-bener harus diperhatikan. Doakeunlah pemirsa, semoga kita semua sehat wal'afiat selamanya, semoga paha perut dan lengan saya kempes, biar dress-dress cantik, celana-celana chic dan baju-baju lucu itu bisa dipake tanpa terlihat seperti lepet.


pengennya sih kayak Tante Jen yang tetep kece banget di umur 46 taun. 46 TAHUN!!! Gambar dipinjem dari sini


Selasa, 27 Januari 2015

Membela Kebenaran




Alkisah, terdapat sebuah negeri di kahyangan yang begitu indah. Negeri yang masyarakatnya gemar berbicara, suaranya nyaring dan riuh, dan begitu reaktif terdapat berbagai hal kemudian merasa pakar akan segala sesuatu berkat sebuah mesin sakti bernama internet. Negeri yang mudah sekali lupa. Negeri itu memiliki raja yang dipilih oleh rakyat. Belum lama, tahta negeri itu berpindah kepada raja baru. Raja baru ini diangkat setelah melalui proses yang panjang nan melelahkan. Raja baru yang memikul beban begitu berat di pundaknya. Beban itu bernama harapan, harapan yang tinggi. Harapan dari segala macam kalangan, mulai rakyat jelata hingga para kelompok raksasa yang dari kelompok inilah satu-satunya cara pengusungan raja bisa terjadi. Tanpa menunggang raksasa, belum ada cara menuju kursi tahta. Semua orang dari rakyat hingga raksasa merasa berjasa dalam pengusungan raja, merasa berjasa atas keberhasilan pengukuhan raja yang harus melalui jalan luar biasa terjal, kemudian merasa bahwa segala keinginan mereka harus dipenuhi raja hingga sepuas-puasnya. Rakyat disini pun beragam, ada rakyat yang turun ke sawah menanam benih di tanah yang terbatas demi keberlangsungan hidup seluruh negeri, ada rakyat di perbatasan negeri yang berharap sejak lama dari raja-raja terdahulu, ada rakyat di samudera yang menegakkan kedaulatan negeri melalui jejaring ikan mereka, ada rakyat berdasi dan tak berdasi menegakkan kedaulatan negeri di pasar dagang, ada rakyat yang mencintai dan menghidupi keindahan seni, dan ada rakyat maya yang riuh di depan kotak sakti 6 inci.

Selain kelompok raksasa dan rakyat, ada prajurit pengayom berseragam dan bersenjata yang seharusnya menggunakan seragam dan senjatanya untuk mengayomi rakyat. Namun lama sudah pengayom berseragam dan bersenjata ini terkena amnesia akan tugasnya untuk mengayomi. Sehingga rakyat yang bertemu pengayom di jalan malah ketakutan akan dimintai upeti, rakyat takut ketika meminta pertolongan ke pondok sang pengayom akan diminta tanda terima kasih, rakyat banyak yang tidak diayomi oleh pengayom berseragam dan bersenjata. Hal ini membuat rakyat tidak mencintai dan tidak berbangga atas pengayom. Bahkan ada ibu-ibu yang menyelipkan doa setelah sembahyangnya agar anak gadis mereka tak berjodoh dengan prajurit pengayom. Namun organisasi pengayom sudah mulai berubah, bahkan sudah banyak berubah. Malu namun harus diakui, dahulu ketika negeri mengalami masa kegelapan dibawah raja diktator, banyak upeti-upeti tak seharusnya diminta oleh pengayom. Maka atas nama kesejahteraan, tak sedikit rakyat menyediakan upeti yang sungguh banyak agar putera putera gagah mereka mendapatkan seragam dan senjata para pengayom. Huh, sungguh saya tidak pernah merasa kasihan mendengar kabar jika ada rakyat yang tertipu karena telah memberikan upeti namun tak kunjung mendapatkan seragam dan senjata. Saat ini, pengayom banyak berbenah. Banyak pemuda pemudi gagah menjadi pengayom secara jujur dan tak curang. Seburuk-buruknya citera pengayom, masih banyak anak kecil dan pemuda pemudi yang ingin mewujudkan cita menjadi sebenar-benarnya pengayom. Dulu seragam yang garang menjadi ramah nan rapi. Dulu upeti-upeti tak sah yang tertebar di banyak jalanan sudah banyak sekali berkurang walau tak hilang. Banyak mereka yang mengabdi sebenar-benarnya mengabdi. Namun sisa sisa jaman kegelapan memang masih banyak bercokol, bahkan berdiri berpangkat tinggi.

Negeri ini telah mengalami masa gelap yang panjang. Praktik-praktik kotor sudah mendarah daging sehingga sulit sekali dibasmi. Masih banyak manusia negeri ini yang begitu tertarik dengan gemerincing emas perak walau harus mendapatkannya dengan cara yang tak benar. Negeri ini terpuruk di angka ratusan peringkat negeri terkorup. Suatu masa, dibentuklah lembaga anti rasuah, yang seharusnya bersama-sama kelompok pengayom dan pengadil membersihkan negeri ini dari kekotoran dan ketamakan. Lembaga anti rasuah ini memiliki power yang begitu besar, yang jika tak hati-hati sekali, mungkin akan terperosok. Rakyat di tengah krisis kepercayaan, begitu mempercayai dan mempercayai lembaga anti rasuah. Karena lembaga ini menghidupi harapan rakyat akan penyelenggaraan negeri yang bersih. Saya termasuk yang percaya sekali dengan lembaga anti rasuah ini. Saya tak banyak kenal mereka, ada dua tiga  orang, itupun jelata yang hanya mengurusi tata administrasinya. Namun saya tahu bagaimana sistem pengawasan mereka, baik pengawasan agar tak terjadi kecurangan dan rasuah, hingga upaya menjaga kualitas kerja mereka. Saya bekerja pada nayaka yang mengurusi kekayaan negeri. Saya bertemu banyak pegawai nayaka nayaka lain termasuk lembaga anti rasuah ini. Begitu terasa perbedaan kualitas yang ada, lembaga anti rasuah memiliki orang-orang pilihan yang sigap dan teguh hati menapaki cara dan jalan yang lurus. Tak cukup keteguhan hati, mereka dijaga oleh penjagaan kualitas yang rutin dilakukan yang mana jika kualitasmu tak lagi mumpuni, maka kau akan dipersilakan kembali ke rumah lamamu.

Suatu hari, entah siapa yang mamulai, entah raja, entah ibunda raksasa, entah fraksi pengayom, tetiba saja calon jendral pengayom yang diajukan adalah orang yang terindikasi memiliki pundi emas yang buncit yang didapat dari cara tak benar. Calon Jenderal itu bernama Pekerti. Rakyat bergejolak, melihat sebuah keanehan. Lembaga Anti Rasuah bergerak cepat, entah apakah ada garis haluan yang dilangkahi, namun Lembaga Anti Rasuah menetapkan sang calon Jenderal Pengayom menjadi calon pesakitan. Bumi gonjang ganjing. Semua orang tercekat. Namun nampaknya hal ini tidak mengganggu mereka yang terutus yang duduk di singgasana perwakilan rakyat untuk meloloskan begitu saja, seiya sekata. Saya sebenarnya sempat bertanya, dari seluruh penduduk singgasana perwakilan, ada orang yang baik, ada sederetan nama-nama aktivis dan pemuda. Tidak adakah yang sekedar terusik kemudian bertanya?

Bumi belum berhenti bergoyang. Pimpinan Lembaga Anti Rasuah bernama Djaya karena kesalahan -yang tak tentu salah walaupun tak tentu benar- masa lalu, ditangkap dan diperlakukan bak pesakitan, tanpa ada pemanggilan sebelumnya. Kabar yang beredar begitu kabur, Jenderal Pengayom sementara pun awalnya membantah. Namun belakangan benar adanya Djaya ditangkap di depan putri belianya, dengan tangan terkungkung. Sontak banyak sekali orang tersentak. Rakyat yang kerap riuh di dunia maya benar-benar turun ke jalanan yang nyata. Ada banyak penggerak yang membuat sebagian rakyat turun. Kekhawatiran dan ketakutan pelemahan sebuah lembaga, keterkejutan, ketidakadilan kepada mereka di luar sana yang kasusnya tak kunjung ditangani, dan suara tepuk tangan para maling kekayaan negeri melihat dua lembaga yang seharusnya memberangus maling kini berseteru. Ayolah, jangan katakan ini tak berhubungan.

Rakyat memanggil-manggil Rajanya. Ada yang memanggil secara santun, ada yang memanggil secara tak sopan. Raja memang harus turun tangan. Namun Raja bukan seperti rakyat biasa, bicaranya Raja mendatangkan konsekuensi yang panjang. Harus dipikirkan dua, tiga, empat langkah kedepan sebelum membuka mulut. Banyak rakyat lupa, ini seharusnya bukan perseteruan baik dan buruk, ini perseteruan dua anak Raja yang harus diperlakukan dengan adil. Raja bukan orang yang jika salah bicara, tinggal menghapus kicauan kemudian minta maaf. Akibat salah bicara bukan hanya dibully di dunia maya, tapi sederetan konsekuensi hukum yang berpotensi menimbulkan efek domino menanti. Rakyat pun mudah lupa. Kini mencaci-maki Raja sambil membandingkan dengan Raja yang terdahulu. Raja terdahulu yang juga mereka caci maki. Rakyat negeri ini memang suka mencaci.

Satu kali dua puluh empat jam memang terasa mencekam. Dukungan terhadap Lembaga Anti Rasuah sungguh mengharukan. Ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Saya pun ingin hadir di sana namun tak bisa. Akhirnya Djaya dibebaskan pada sepertiga malam akhir. 

Lepas 1x24 jam, suara mulai terdengar sumbang. Bukan, bukan sumbang karena rakyat menginginkan kebenaran ditegakkan. Semoga doa dan usaha manusia-manusia yang ingin menegakkan kebenaran dikabulkan Tuhan. Namun suara sumbang terdengar dari mereka yang tadinya membela, menjadi merasa bisa menjalankan negara. Menjalankan negara tidak sekedar bisa dilaksanakan berbekal informasi dari portal berita, berbekal pengetahuan saja, atau bahkan ada yang merasa bisa menjalankan keputusan negara berdasar referensi film. 

Negeri ini memiliki kanun yang berbunyi "semua penduduk negeri memiliki kedudukan sama di mata hukum". Djaya tentu saja harus menjalani proses sesuai dengan statuta yang ada. Ada beberapa pilihan proses hukum yang dapat ia tempuh. Namun kesamaan di mata hukum pun semoga juga didapatkan oleh mereka yang sudah lama mengadu kepada Sang Pengayom namun tak kunjung digubris.

"Ojo Gumunan"
Ojo gumunan adalah sebuah ajaran untuk menyikapi peristiwa hidup dengan bijak, arif, jauh dari prasangka, mengambil sikap yang wajar sesuai dengan proporsinya, dan tidak berlebihan

Beberapa orang mengatakan hal tersebut. Ojo gumunan. Sewajarnya saja. Itu memang betul dan arif. Namun juga jangan permisif. Jangan hanya berhenti menjadi manusia yang berprinsip menjauhi yang haram, menjauhi perilaku koruptif, kemudian merasa cukup baik. Mari selalu belajar menjadi orang yang tidak permisif terhadap hal-hal berbau korupsi. Karena jika kita hanya sekedar berprinsip namun permisif, maka kita tidak akan kemana-mana, kita hanya berjalan di tempat, kita tidak berjalan ke arah yang lebih baik. Saya juga berusaha terus menerus belajar dan itu penuh sekali dengan tantangan. Hormat saya bagi mereka yang telah menerapkan pola hidup menjauhi yang haram, namun tak sekedar diam, ia pun menebar kebaikan hidup yang sama. Mengajak dan menegaskan kebaikan bagi orang banyak.

Semoga negeri antah berantah ini dirahmati.
Semoga semakin banyak orang terbuka hatinya dan bicara, bukan hanya asal berbicara.
Semoga semakin banyak orang mau mendengarkan.
Namun tetap, semoga raksasa-raksasa jahat dimusnahkan selamanya.



Alkisah, terdapat sebuah negeri di kahyangan yang begitu indah. Negeri yang masyarakatnya gemar berbicara, suaranya nyaring dan riuh, dan begitu reaktif terdapat berbagai hal kemudian merasa pakar akan segala sesuatu berkat sebuah mesin sakti bernama internet. Negeri yang mudah sekali lupa. Negeri itu memiliki raja yang dipilih oleh rakyat. Belum lama, tahta negeri itu berpindah kepada raja baru. Raja baru ini diangkat setelah melalui proses yang panjang nan melelahkan. Raja baru yang memikul beban begitu berat di pundaknya. Beban itu bernama harapan, harapan yang tinggi. Harapan dari segala macam kalangan, mulai rakyat jelata hingga para kelompok raksasa yang dari kelompok inilah satu-satunya cara pengusungan raja bisa terjadi. Tanpa menunggang raksasa, belum ada cara menuju kursi tahta. Semua orang dari rakyat hingga raksasa merasa berjasa dalam pengusungan raja, merasa berjasa atas keberhasilan pengukuhan raja yang harus melalui jalan luar biasa terjal, kemudian merasa bahwa segala keinginan mereka harus dipenuhi raja hingga sepuas-puasnya. Rakyat disini pun beragam, ada rakyat yang turun ke sawah menanam benih di tanah yang terbatas demi keberlangsungan hidup seluruh negeri, ada rakyat di perbatasan negeri yang berharap sejak lama dari raja-raja terdahulu, ada rakyat di samudera yang menegakkan kedaulatan negeri melalui jejaring ikan mereka, ada rakyat berdasi dan tak berdasi menegakkan kedaulatan negeri di pasar dagang, ada rakyat yang mencintai dan menghidupi keindahan seni, dan ada rakyat maya yang riuh di depan kotak sakti 6 inci.

Selain kelompok raksasa dan rakyat, ada prajurit pengayom berseragam dan bersenjata yang seharusnya menggunakan seragam dan senjatanya untuk mengayomi rakyat. Namun lama sudah pengayom berseragam dan bersenjata ini terkena amnesia akan tugasnya untuk mengayomi. Sehingga rakyat yang bertemu pengayom di jalan malah ketakutan akan dimintai upeti, rakyat takut ketika meminta pertolongan ke pondok sang pengayom akan diminta tanda terima kasih, rakyat banyak yang tidak diayomi oleh pengayom berseragam dan bersenjata. Hal ini membuat rakyat tidak mencintai dan tidak berbangga atas pengayom. Bahkan ada ibu-ibu yang menyelipkan doa setelah sembahyangnya agar anak gadis mereka tak berjodoh dengan prajurit pengayom. Namun organisasi pengayom sudah mulai berubah, bahkan sudah banyak berubah. Malu namun harus diakui, dahulu ketika negeri mengalami masa kegelapan dibawah raja diktator, banyak upeti-upeti tak seharusnya diminta oleh pengayom. Maka atas nama kesejahteraan, tak sedikit rakyat menyediakan upeti yang sungguh banyak agar putera putera gagah mereka mendapatkan seragam dan senjata para pengayom. Huh, sungguh saya tidak pernah merasa kasihan mendengar kabar jika ada rakyat yang tertipu karena telah memberikan upeti namun tak kunjung mendapatkan seragam dan senjata. Saat ini, pengayom banyak berbenah. Banyak pemuda pemudi gagah menjadi pengayom secara jujur dan tak curang. Seburuk-buruknya citera pengayom, masih banyak anak kecil dan pemuda pemudi yang ingin mewujudkan cita menjadi sebenar-benarnya pengayom. Dulu seragam yang garang menjadi ramah nan rapi. Dulu upeti-upeti tak sah yang tertebar di banyak jalanan sudah banyak sekali berkurang walau tak hilang. Banyak mereka yang mengabdi sebenar-benarnya mengabdi. Namun sisa sisa jaman kegelapan memang masih banyak bercokol, bahkan berdiri berpangkat tinggi.

Negeri ini telah mengalami masa gelap yang panjang. Praktik-praktik kotor sudah mendarah daging sehingga sulit sekali dibasmi. Masih banyak manusia negeri ini yang begitu tertarik dengan gemerincing emas perak walau harus mendapatkannya dengan cara yang tak benar. Negeri ini terpuruk di angka ratusan peringkat negeri terkorup. Suatu masa, dibentuklah lembaga anti rasuah, yang seharusnya bersama-sama kelompok pengayom dan pengadil membersihkan negeri ini dari kekotoran dan ketamakan. Lembaga anti rasuah ini memiliki power yang begitu besar, yang jika tak hati-hati sekali, mungkin akan terperosok. Rakyat di tengah krisis kepercayaan, begitu mempercayai dan mempercayai lembaga anti rasuah. Karena lembaga ini menghidupi harapan rakyat akan penyelenggaraan negeri yang bersih. Saya termasuk yang percaya sekali dengan lembaga anti rasuah ini. Saya tak banyak kenal mereka, ada dua tiga  orang, itupun jelata yang hanya mengurusi tata administrasinya. Namun saya tahu bagaimana sistem pengawasan mereka, baik pengawasan agar tak terjadi kecurangan dan rasuah, hingga upaya menjaga kualitas kerja mereka. Saya bekerja pada nayaka yang mengurusi kekayaan negeri. Saya bertemu banyak pegawai nayaka nayaka lain termasuk lembaga anti rasuah ini. Begitu terasa perbedaan kualitas yang ada, lembaga anti rasuah memiliki orang-orang pilihan yang sigap dan teguh hati menapaki cara dan jalan yang lurus. Tak cukup keteguhan hati, mereka dijaga oleh penjagaan kualitas yang rutin dilakukan yang mana jika kualitasmu tak lagi mumpuni, maka kau akan dipersilakan kembali ke rumah lamamu.

Suatu hari, entah siapa yang mamulai, entah raja, entah ibunda raksasa, entah fraksi pengayom, tetiba saja calon jendral pengayom yang diajukan adalah orang yang terindikasi memiliki pundi emas yang buncit yang didapat dari cara tak benar. Calon Jenderal itu bernama Pekerti. Rakyat bergejolak, melihat sebuah keanehan. Lembaga Anti Rasuah bergerak cepat, entah apakah ada garis haluan yang dilangkahi, namun Lembaga Anti Rasuah menetapkan sang calon Jenderal Pengayom menjadi calon pesakitan. Bumi gonjang ganjing. Semua orang tercekat. Namun nampaknya hal ini tidak mengganggu mereka yang terutus yang duduk di singgasana perwakilan rakyat untuk meloloskan begitu saja, seiya sekata. Saya sebenarnya sempat bertanya, dari seluruh penduduk singgasana perwakilan, ada orang yang baik, ada sederetan nama-nama aktivis dan pemuda. Tidak adakah yang sekedar terusik kemudian bertanya?

Bumi belum berhenti bergoyang. Pimpinan Lembaga Anti Rasuah bernama Djaya karena kesalahan -yang tak tentu salah walaupun tak tentu benar- masa lalu, ditangkap dan diperlakukan bak pesakitan, tanpa ada pemanggilan sebelumnya. Kabar yang beredar begitu kabur, Jenderal Pengayom sementara pun awalnya membantah. Namun belakangan benar adanya Djaya ditangkap di depan putri belianya, dengan tangan terkungkung. Sontak banyak sekali orang tersentak. Rakyat yang kerap riuh di dunia maya benar-benar turun ke jalanan yang nyata. Ada banyak penggerak yang membuat sebagian rakyat turun. Kekhawatiran dan ketakutan pelemahan sebuah lembaga, keterkejutan, ketidakadilan kepada mereka di luar sana yang kasusnya tak kunjung ditangani, dan suara tepuk tangan para maling kekayaan negeri melihat dua lembaga yang seharusnya memberangus maling kini berseteru. Ayolah, jangan katakan ini tak berhubungan.

Rakyat memanggil-manggil Rajanya. Ada yang memanggil secara santun, ada yang memanggil secara tak sopan. Raja memang harus turun tangan. Namun Raja bukan seperti rakyat biasa, bicaranya Raja mendatangkan konsekuensi yang panjang. Harus dipikirkan dua, tiga, empat langkah kedepan sebelum membuka mulut. Banyak rakyat lupa, ini seharusnya bukan perseteruan baik dan buruk, ini perseteruan dua anak Raja yang harus diperlakukan dengan adil. Raja bukan orang yang jika salah bicara, tinggal menghapus kicauan kemudian minta maaf. Akibat salah bicara bukan hanya dibully di dunia maya, tapi sederetan konsekuensi hukum yang berpotensi menimbulkan efek domino menanti. Rakyat pun mudah lupa. Kini mencaci-maki Raja sambil membandingkan dengan Raja yang terdahulu. Raja terdahulu yang juga mereka caci maki. Rakyat negeri ini memang suka mencaci.

Satu kali dua puluh empat jam memang terasa mencekam. Dukungan terhadap Lembaga Anti Rasuah sungguh mengharukan. Ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Saya pun ingin hadir di sana namun tak bisa. Akhirnya Djaya dibebaskan pada sepertiga malam akhir. 

Lepas 1x24 jam, suara mulai terdengar sumbang. Bukan, bukan sumbang karena rakyat menginginkan kebenaran ditegakkan. Semoga doa dan usaha manusia-manusia yang ingin menegakkan kebenaran dikabulkan Tuhan. Namun suara sumbang terdengar dari mereka yang tadinya membela, menjadi merasa bisa menjalankan negara. Menjalankan negara tidak sekedar bisa dilaksanakan berbekal informasi dari portal berita, berbekal pengetahuan saja, atau bahkan ada yang merasa bisa menjalankan keputusan negara berdasar referensi film. 

Negeri ini memiliki kanun yang berbunyi "semua penduduk negeri memiliki kedudukan sama di mata hukum". Djaya tentu saja harus menjalani proses sesuai dengan statuta yang ada. Ada beberapa pilihan proses hukum yang dapat ia tempuh. Namun kesamaan di mata hukum pun semoga juga didapatkan oleh mereka yang sudah lama mengadu kepada Sang Pengayom namun tak kunjung digubris.

"Ojo Gumunan"
Ojo gumunan adalah sebuah ajaran untuk menyikapi peristiwa hidup dengan bijak, arif, jauh dari prasangka, mengambil sikap yang wajar sesuai dengan proporsinya, dan tidak berlebihan

Beberapa orang mengatakan hal tersebut. Ojo gumunan. Sewajarnya saja. Itu memang betul dan arif. Namun juga jangan permisif. Jangan hanya berhenti menjadi manusia yang berprinsip menjauhi yang haram, menjauhi perilaku koruptif, kemudian merasa cukup baik. Mari selalu belajar menjadi orang yang tidak permisif terhadap hal-hal berbau korupsi. Karena jika kita hanya sekedar berprinsip namun permisif, maka kita tidak akan kemana-mana, kita hanya berjalan di tempat, kita tidak berjalan ke arah yang lebih baik. Saya juga berusaha terus menerus belajar dan itu penuh sekali dengan tantangan. Hormat saya bagi mereka yang telah menerapkan pola hidup menjauhi yang haram, namun tak sekedar diam, ia pun menebar kebaikan hidup yang sama. Mengajak dan menegaskan kebaikan bagi orang banyak.

Semoga negeri antah berantah ini dirahmati.
Semoga semakin banyak orang terbuka hatinya dan bicara, bukan hanya asal berbicara.
Semoga semakin banyak orang mau mendengarkan.
Namun tetap, semoga raksasa-raksasa jahat dimusnahkan selamanya.

Senin, 19 Januari 2015

Sabtu Bersama Bapak

Sebentar, saya mau standing ovation dulu buat Adhitya Mulya atas buku Sabtu Bersama Bapak

*keplok keplok*

Sebenernya udah lama beli buku Sabtu bersama Bapak ini. Cuma belum kepengen baca. Banyak yang bilang habis baca jadi sedih. Kirain Sabtu Bersama Bapak adalah cerita dimana kita mengikuti kisah seseorang yang sakit hingga proses ajal menjemputnya, kayak semacam My Sister Keeper gitu. Saya lagi gak kepengen sedih-sedih, soalnya sekarang kepancing sedih dikit langsung mewek gak jelas. 

Ternyata ceritanya gak seperti itu. Buku ini bagus, lucu, segar, dan mengharukan sekaligus. Mungkin ini buku ilmu parenting slash ilmu manajemen keuangan privat yang terbungkus begitu apik dalam sebuah novel, hahaha. Dan suasana kantor Cakra begitu menyenangkaaaan, pengen deh punya kantor asik kayak gitu :D. Terus guyonannya juga lucu dan segeeeer. Walaupun ada beberapa joke jomblo yang udah basi, tapi Adhit mengemasnya dengan cara yang enak dibaca. Belum lagi footnotenya yang bikin ngakak, hahaha. Terlihat sekali Adhit menampaikan berbagai nilai yang dipegangnya selama ini dalam bukunya, beberapa sudah pernah diungkapkan di blognya. Duh, suamigila sama istribawel ini bener-bener blogger pasutri favorit dehhh.



Banyak sekali quote yang saya sukai dari Sabtu Bersama Bapak ini. Disini saya tidak akan mereview buku, saya hanya ingin berbagi beberapa quote yang paling saya suka.

'Dalam hidup kalian mungkin akan datangan beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu  gak penting. Yang penting itu attittude.'
Dia terdiam
"Kemudian mereka akan berkata, yang penting dari membangun karier adalah perilaku kita. Kemampuan kita berbicara, berinteraksi, bla bla bla."
Dia terdiam lagi
"Mereka benar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya. Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademis itu gak penting. Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuat lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain"


****

"Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja yang lain. atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah mereka tidak dapat menggantinya"

****

Ada orang yang merugikan orang lain
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka
Ada  orang yang hanya merugikan diri sendiri
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri
Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya
Ada orang yang berguna untuk orang lain

****

"Sulung dipaksa menjadi dewasa hanya karena kodrat mereka sulung, itu Kakang gak setuju. Satya anak sulung kita. Kita yang membuat dia jadi anak sulung. Dia tidak pernah kok meminta dirinya menjadi anak sulung. Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar bertanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan"


****

"Ketika orangtua memberikan waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati dengan si Sulung, anak sulung itu akan memiliki waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati pada adik-adiknya"


****

Sekali lagi buku ini bagus, mengandung banyak sekali nilai yang dapat dipelajari, lucu, romantiiiis dan sangat menyentuh. Mamah,  Satya, dan Saka menyukai video terakhir dari Bapak. Itu juga favorit saya. Buku ini ditutup dengan sangat baik dan mengharukan. Begitu membaca bagian terakhir, saya menangis tapi sambil senyum-senyum :)




Sebentar, saya mau standing ovation dulu buat Adhitya Mulya atas buku Sabtu Bersama Bapak

*keplok keplok*

Sebenernya udah lama beli buku Sabtu bersama Bapak ini. Cuma belum kepengen baca. Banyak yang bilang habis baca jadi sedih. Kirain Sabtu Bersama Bapak adalah cerita dimana kita mengikuti kisah seseorang yang sakit hingga proses ajal menjemputnya, kayak semacam My Sister Keeper gitu. Saya lagi gak kepengen sedih-sedih, soalnya sekarang kepancing sedih dikit langsung mewek gak jelas. 

Ternyata ceritanya gak seperti itu. Buku ini bagus, lucu, segar, dan mengharukan sekaligus. Mungkin ini buku ilmu parenting slash ilmu manajemen keuangan privat yang terbungkus begitu apik dalam sebuah novel, hahaha. Dan suasana kantor Cakra begitu menyenangkaaaan, pengen deh punya kantor asik kayak gitu :D. Terus guyonannya juga lucu dan segeeeer. Walaupun ada beberapa joke jomblo yang udah basi, tapi Adhit mengemasnya dengan cara yang enak dibaca. Belum lagi footnotenya yang bikin ngakak, hahaha. Terlihat sekali Adhit menampaikan berbagai nilai yang dipegangnya selama ini dalam bukunya, beberapa sudah pernah diungkapkan di blognya. Duh, suamigila sama istribawel ini bener-bener blogger pasutri favorit dehhh.



Banyak sekali quote yang saya sukai dari Sabtu Bersama Bapak ini. Disini saya tidak akan mereview buku, saya hanya ingin berbagi beberapa quote yang paling saya suka.

'Dalam hidup kalian mungkin akan datangan beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu  gak penting. Yang penting itu attittude.'
Dia terdiam
"Kemudian mereka akan berkata, yang penting dari membangun karier adalah perilaku kita. Kemampuan kita berbicara, berinteraksi, bla bla bla."
Dia terdiam lagi
"Mereka benar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya. Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademis itu gak penting. Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuat lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain"


****

"Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja yang lain. atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah mereka tidak dapat menggantinya"

****

Ada orang yang merugikan orang lain
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka
Ada  orang yang hanya merugikan diri sendiri
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri
Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya
Ada orang yang berguna untuk orang lain

****

"Sulung dipaksa menjadi dewasa hanya karena kodrat mereka sulung, itu Kakang gak setuju. Satya anak sulung kita. Kita yang membuat dia jadi anak sulung. Dia tidak pernah kok meminta dirinya menjadi anak sulung. Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar bertanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan"


****

"Ketika orangtua memberikan waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati dengan si Sulung, anak sulung itu akan memiliki waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati pada adik-adiknya"


****

Sekali lagi buku ini bagus, mengandung banyak sekali nilai yang dapat dipelajari, lucu, romantiiiis dan sangat menyentuh. Mamah,  Satya, dan Saka menyukai video terakhir dari Bapak. Itu juga favorit saya. Buku ini ditutup dengan sangat baik dan mengharukan. Begitu membaca bagian terakhir, saya menangis tapi sambil senyum-senyum :)




Kamis, 15 Januari 2015

My hatred

Saya tahu bahwa kebencian dan dendam menyandera pikiran, hati, dan hidup seseorang. Yang rugi ya orang itu sendiri. Oleh sebab itu saya sebisa mungkin berusaha tidak membenci yang benci sekali. Yaa katakanlah benci benci lucu terhadap Mulan Jameela atau benci benci gemes sama Bambang Soesatyo. Namun hal tersebut hanya membawa saya sekedar tertawa tawa membaca postingan akun instagram hatersnya atau menekan tombol pindah pada remote televisi.
Saya berusaha tidak membenci lingkungan saya. Kadang (sering!) saya tidak suka terhadap komentar, postingan, pemikiran, attitude orang orang sekitar saya yang saya kenal langsung. Namun ketidaksukaan itu hanya sedalam mengklik tombol dislike di youtube. Setelah itu selesai. Ketidaksukaan itu menghasilkan pemahaman bahwa ternyata saya dan dia tidak ada dalam satu frekuensi pemikiran dimana kami merasa nyaman berdialog. Maka lebih baik tidak dekat dekat, bukan karena benci, namun karna ketidaksesuaian jalan pikiran yang tak membentuk diagram venn sama sekali. Itu saja. Beberapa dari anda mungkin beranggapan kadang saya rude. Maafkan kejawatimuran saya, namun saya tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa mengungkapkan apa yang ada di pikiran alih alih berbicara di belakang. Setelah itu selesai dan berlanjut dengan tertawa tawa bersama. Tidak ada benci.
Saya tidak tahu batas diri saya ketika membenci. Sampai saat ini.
Yes, you sir, deserve my anger, my hatred, my revenge. Saya tidak pernah begitu marah dan benci kepada seseorang seperti ini. I hate you with all of my heart.
Saya tidak akan membawa dendam dan kebencian saya menggantung 5 cm di depan mata. Kebencian dan dendam saya kepada kamu tidak selayaknya bersanding dengan keinginan dan harapan saya. Memenuhi pikiran saya. Saya akan meletakkan dendam dan kebencian saya kepada kamu dalam suatu kotak. Kotak yang kapan saja akan saya buka, sebagai bahan bakar senyum saya melihat apapun kemalanganmu dan kejatuhanmu. I promise you.
Sudah 3 x 24 jam saya bernafas panjang mengendalikan amarah. Fase fase begitu marah besar hingga sesak menangis sudah terlewati. Fase fase membayangkan saya melakukan apa yang dilakukan pesakitan di CSI terhadapmu sudah lewat. Sekedar memastikan bahwa akal sehat sudah mengambil alih kontrol sepenuhnya atas kemarahan ini. Hasilnya adalah saya tetap marah semarah marahnya, tapi ini tidak akan memenuhi dan menyita hidup saya. Kamu tidak seberharga itu, malah tidak berharga sama sekali. Tapi ingat, dari setiap kata dan perbuatan yang kamu lakukan, saya akan mengikutsertakan diri dalam membalasnya. Bersama mereka yang juga membencimu, mereka yang begitu banyak.
P.S : I know you read my blog
Saya tahu bahwa kebencian dan dendam menyandera pikiran, hati, dan hidup seseorang. Yang rugi ya orang itu sendiri. Oleh sebab itu saya sebisa mungkin berusaha tidak membenci yang benci sekali. Yaa katakanlah benci benci lucu terhadap Mulan Jameela atau benci benci gemes sama Bambang Soesatyo. Namun hal tersebut hanya membawa saya sekedar tertawa tawa membaca postingan akun instagram hatersnya atau menekan tombol pindah pada remote televisi.
Saya berusaha tidak membenci lingkungan saya. Kadang (sering!) saya tidak suka terhadap komentar, postingan, pemikiran, attitude orang orang sekitar saya yang saya kenal langsung. Namun ketidaksukaan itu hanya sedalam mengklik tombol dislike di youtube. Setelah itu selesai. Ketidaksukaan itu menghasilkan pemahaman bahwa ternyata saya dan dia tidak ada dalam satu frekuensi pemikiran dimana kami merasa nyaman berdialog. Maka lebih baik tidak dekat dekat, bukan karena benci, namun karna ketidaksesuaian jalan pikiran yang tak membentuk diagram venn sama sekali. Itu saja. Beberapa dari anda mungkin beranggapan kadang saya rude. Maafkan kejawatimuran saya, namun saya tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa mengungkapkan apa yang ada di pikiran alih alih berbicara di belakang. Setelah itu selesai dan berlanjut dengan tertawa tawa bersama. Tidak ada benci.
Saya tidak tahu batas diri saya ketika membenci. Sampai saat ini.
Yes, you sir, deserve my anger, my hatred, my revenge. Saya tidak pernah begitu marah dan benci kepada seseorang seperti ini. I hate you with all of my heart.
Saya tidak akan membawa dendam dan kebencian saya menggantung 5 cm di depan mata. Kebencian dan dendam saya kepada kamu tidak selayaknya bersanding dengan keinginan dan harapan saya. Memenuhi pikiran saya. Saya akan meletakkan dendam dan kebencian saya kepada kamu dalam suatu kotak. Kotak yang kapan saja akan saya buka, sebagai bahan bakar senyum saya melihat apapun kemalanganmu dan kejatuhanmu. I promise you.
Sudah 3 x 24 jam saya bernafas panjang mengendalikan amarah. Fase fase begitu marah besar hingga sesak menangis sudah terlewati. Fase fase membayangkan saya melakukan apa yang dilakukan pesakitan di CSI terhadapmu sudah lewat. Sekedar memastikan bahwa akal sehat sudah mengambil alih kontrol sepenuhnya atas kemarahan ini. Hasilnya adalah saya tetap marah semarah marahnya, tapi ini tidak akan memenuhi dan menyita hidup saya. Kamu tidak seberharga itu, malah tidak berharga sama sekali. Tapi ingat, dari setiap kata dan perbuatan yang kamu lakukan, saya akan mengikutsertakan diri dalam membalasnya. Bersama mereka yang juga membencimu, mereka yang begitu banyak.
P.S : I know you read my blog

Selasa, 06 Januari 2015

Durasi Pembunuh Empati

Sudah bukan rahasia jika Indonesia mengalami kemalangan seperti kecelakaan, maka media akan mengupas habis-habisan tanpa ampun, tidak ada sama sekali empati yang mereka tunjukkan. Apalagi media ini kelasnya bukan ecek-ecek, tapi media besar dengan rating tinggi yang berarti dikonsumsi banyak orang. Seperti yang kita ketahui, Air Asia mengalami kecelakaan dan sampai saat ini masih berusaha dievakuasi. Saat pertama kali titik jatuh Air Asia ditemukan, dengan super tololnya TVOon menayangkan gambar jenazah mengapung tanpa blur sama sekali. Dan benar saja, keluarga korban histeris. Jangankan mereka, saya saja yang melihat langsung merinding tidak karuan. Kemudian dengan seenak jidat TV Oon meminta maaf setelah berlaku dengan sangat keji seperti itu. 

Ketika bencana terjadi, sering sekali media-media menanyakan pertanyaan-pertanyaan tidak empatik. Kemudian membahas topik bencana selama berjam-jam. Mengundang entah pakar darimana, kemudian para pakar tanpa sungkan-sungkan berbicara kemana-kemana, lantas berspekulasi macam-macam.

Sekarang marilah kita sejenak membayangkan, bagaimana perasaan keluarga atau siapapun yang disebut manusia normal, melihat what-so-called pakar berasumsi macam-macam tentang proses jatuhnya pesawat, melihat bagaimana visualisasi animasi yang dibuat Metromini TV tentang bagaimana detik-detik pesawat jatuh, berbusa-busa membicarakan apapun bagaikan orang berghibah dan ditayangkan secara nasional (oh, atau memang berghibah nasional secara live!!). Belum lagi reporter reporter lapangan yang menanyakan hal-hal yang membikin kening berkerut. Bertanya kerap tanpa etika, bagai menginterogasi maling. 

Kemudian saya berpikir, bagaimana bisa setega itu? Mungkin jawabannya adalah karena durasi. Siapapun yang berwenang mengatur program televisi, sungguh tanpa empati memutuskan durasi yang sebegitu panjang. Iya, kami membutuhkan info terkini. Tapi bukan berarti sepanjang waktu butuh terus menerus mendengarkan cerocosan yang jauh dari informatif. Durasi yang begitu panjang membuat reporter lapangan bagaimanapun kehabisan bahan dan melaporkan serta menanyakan hal-hal yang tidak substantif dan miskin empati. Pembawa acara di studio pun akan menanyakan hal yang tak kalah tidak pentingnya. Bahkan ikut berspekulasi. Narasumber dituntut berbicara selama itu pun mungkin akan mengalami pengikisan empati dan jadi berbicara nggelambyar kemana-mana. Sedihnya, orang-orang pun melahap makanan ini. Pengamat-pengamat dadakan seakan mendapat panggung.Oh, dan media sosial pun tak mau ketinggalan keriuhan ini.

Mungkin Bu Susi perlu difotokopi, dan ditasbihkan jadi ketua KPI. Agar pembodohan-pembodohan melalui televisi ini berhenti :(

Semoga yang terkena musibah dikuatkan :(. Semoga korban-korban musibah segera diketemukan. Semoga mereka yang menolong secara langsung diganjar dengan kekuatan. Semoga tidak ada lagi musibah menyedihkan. Dan semoga kita diberi kewarasan dalam mengkonsumsi media, alih-alih ikut tidak waras dan menebar kebencian serta ikut kehilangan empati.




Sudah bukan rahasia jika Indonesia mengalami kemalangan seperti kecelakaan, maka media akan mengupas habis-habisan tanpa ampun, tidak ada sama sekali empati yang mereka tunjukkan. Apalagi media ini kelasnya bukan ecek-ecek, tapi media besar dengan rating tinggi yang berarti dikonsumsi banyak orang. Seperti yang kita ketahui, Air Asia mengalami kecelakaan dan sampai saat ini masih berusaha dievakuasi. Saat pertama kali titik jatuh Air Asia ditemukan, dengan super tololnya TVOon menayangkan gambar jenazah mengapung tanpa blur sama sekali. Dan benar saja, keluarga korban histeris. Jangankan mereka, saya saja yang melihat langsung merinding tidak karuan. Kemudian dengan seenak jidat TV Oon meminta maaf setelah berlaku dengan sangat keji seperti itu. 

Ketika bencana terjadi, sering sekali media-media menanyakan pertanyaan-pertanyaan tidak empatik. Kemudian membahas topik bencana selama berjam-jam. Mengundang entah pakar darimana, kemudian para pakar tanpa sungkan-sungkan berbicara kemana-kemana, lantas berspekulasi macam-macam.

Sekarang marilah kita sejenak membayangkan, bagaimana perasaan keluarga atau siapapun yang disebut manusia normal, melihat what-so-called pakar berasumsi macam-macam tentang proses jatuhnya pesawat, melihat bagaimana visualisasi animasi yang dibuat Metromini TV tentang bagaimana detik-detik pesawat jatuh, berbusa-busa membicarakan apapun bagaikan orang berghibah dan ditayangkan secara nasional (oh, atau memang berghibah nasional secara live!!). Belum lagi reporter reporter lapangan yang menanyakan hal-hal yang membikin kening berkerut. Bertanya kerap tanpa etika, bagai menginterogasi maling. 

Kemudian saya berpikir, bagaimana bisa setega itu? Mungkin jawabannya adalah karena durasi. Siapapun yang berwenang mengatur program televisi, sungguh tanpa empati memutuskan durasi yang sebegitu panjang. Iya, kami membutuhkan info terkini. Tapi bukan berarti sepanjang waktu butuh terus menerus mendengarkan cerocosan yang jauh dari informatif. Durasi yang begitu panjang membuat reporter lapangan bagaimanapun kehabisan bahan dan melaporkan serta menanyakan hal-hal yang tidak substantif dan miskin empati. Pembawa acara di studio pun akan menanyakan hal yang tak kalah tidak pentingnya. Bahkan ikut berspekulasi. Narasumber dituntut berbicara selama itu pun mungkin akan mengalami pengikisan empati dan jadi berbicara nggelambyar kemana-mana. Sedihnya, orang-orang pun melahap makanan ini. Pengamat-pengamat dadakan seakan mendapat panggung.Oh, dan media sosial pun tak mau ketinggalan keriuhan ini.

Mungkin Bu Susi perlu difotokopi, dan ditasbihkan jadi ketua KPI. Agar pembodohan-pembodohan melalui televisi ini berhenti :(

Semoga yang terkena musibah dikuatkan :(. Semoga korban-korban musibah segera diketemukan. Semoga mereka yang menolong secara langsung diganjar dengan kekuatan. Semoga tidak ada lagi musibah menyedihkan. Dan semoga kita diberi kewarasan dalam mengkonsumsi media, alih-alih ikut tidak waras dan menebar kebencian serta ikut kehilangan empati.




Selasa, 23 Desember 2014

Bangga Film Indonesia

#BanggaFilmIndonesia

Saya ini orangnya selera lokal. Dari buku sampai film, saya lebih suka dengan aseli buatan Indonesia. Tahun 2003 saya tergila-gila dengan Ada Apa Dengan Cinta. Sederetan film karya Mira Lesmana, Lola Amaria, Nia Dinata, Alenia, dan beberapa karya Hanung membuat saya tambah suka sama Film Indonesia. Sayangnya film-film bagus seperti Sokola Rimba, Minggu Pagi di Victoria Park, What They Don't Talk About When They Talk About Love, Selamat Pagi Malam, Serdadu Kumbang, Cahaya Dari Timur : Beta Maluku, dan sederetan film keren lainnya masih kalah sama film horor mesum. Sesuatu yang tidak masuk akal buat saya. Mungkin mereka-mereka yang bereaksi seperti api terhadap bensin sewaktu tahu tidak ada Kementerian Ekonomi Kreatif, yang mana mungkin mereka setengah mati ingin ekonomi kreatif berjaya, malah tidak pergi ke bioskop untuk menghidupi Film Indonesia. Sebagai orang yang bertahun-tahun merindukan bioskop dan tidak bisa ke bioskop, saya berusaha memiliki DVD original film-film Indonesia yang bagus sebagai bentuk partisipasi kecil saya (yang sekarang entah dimana keberadaannya gara-gara kebanyakan pindahan T^T). Karna sekarang udah deket bioskop, jadilah itu dikit-dikit bawaannya ke bioskop mulu, hihihi. Beberapa minggu ini saya menonton 3 film Indonesia, dan saya bermaksud bikin review ala-ala. Here we go.....

7/24
super cute Diandra Paramitha Sastrowardoyo

She's come back!! My lovey-dovey-pretty-sisty Dian Sastowardoyo kembali ke layar lebar. Kali ini Dian main di film dengan genre komedi dan beradu akting dengan Lukman Sardi. Oke, nama Dian Sastro dan Lukman Sardi sudah jadi satu jaminan tersendiri buat saya. Memang dari awal ekspektasi saya gak terlalu tinggi sih. Saya gak berharap saya bakal ketawa ngakak-ngakak kayak waktu liat Punk In Love. Sutradaranya juga bukan yang termasuk favorit, diproduksi sama MNC pula. Maka saya datang ke bioskop atas nama kangen liat wajah cantik Dian Sastro.

Untuk sekedar ngelepas lelah sih, film ini oke. Hiburan di tengah rutinitas rumah tangga atau kantor. Yup, sasaran pasar film ini memang pasutri yang selama ini memang gak pernah "dibikinin" film khusus buat mereka. 7/24 bercerita tentang kehidupan suami istri dengan segala rutinitas dan kesibukannya. Saking sibuknya, sampe si pasutri ini sakit bareng, dan 7 hari 24 jam dimana mereka dirawat bareng, merupakan waktu terpanjang mereka benar-benar berkomunikasi. Dalam 7 hari 24 jam tersebut terjadi banyak hal konyol, mengharukan, dan sedih yang jadi puncak konflik. Di luar akting bagus Lukman Sardi dan Dian Sastro yang berhasil bikin senyum-senyum, sumpah film ini ganggu banget. Iklan colongannya keterlaluan banyaknya, dan semua produk MNC. Belum lagi lubang disana sini, misalnya infus yang tiba-tiba hilang dan pergantian adegan yang tidak rapi dan membingungkan. Bintang dari Indonesian Idol pada ngikut. Untung aja Hary Tanoe gak tiba-tiba nongol atau untung setting cerita kerjanya bukan TPI yang berantem sama MNC XD. 

Btw, film ini cocok buat pasutri yang udah lama ga ke bioskop karena tetek bengek kesibukan rumah tangga sebagai ayah, sebagai bunda, sebagai suami, sebagai istri, menantu, dan sebagainya. Ini waktunya jadi sepasang kekasih, grab some popcorn dan pergilah ke bioskop.

Three Stars




SUPERNOVA : KESATRIA, PUTRI, DAN BINTANG JATUH


Mengadaptasi buku menjadi film sudah jadi tren tidak hanya di Indonesia. Beberapa film diadaptasi dengan cukup baik. Waktu saya baca Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya sama sekali tidak terbayang bagaimana jadinya jika dia difilmkan. Bahkan bilang kalo ini buku gak mungkin bisa difilmin. Kalo lanjutan supernova yaitu Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang saya masih bisa bayangin. Buku-buku Dewi Lestari tidak sekedar  berisi cerita, tapi kental dengan filosofi. Itulah kenapa saya rasa bakal susah sekali memvisualkan buku Dee.

Ketika tau KPBJ akan difilmkan, saya udah ragu ragu. Mau digimanain dialog Reuben dan Dimas yang sebegitu dalam? Bagaimana pembicaraan Diva dengan kliennya yang  lagi ngomongin ekonomi? Bagaimana supernova berwujud? Bagaimana irisan universe diantara tokoh-tokoh di dalamnya? Saya udah ga niat liat karena takut kecewa. Toh waktu tau supernova mau difilmkan, saya masih di Banda Aceh, ga ada bioskop cyiiin. Namun apalah daya, anak gawul twitter ga tahan godaan. Sekaligus penasaran bakal kayak gimana KPBJ kalo difilmin.

Setting tempat : OK
Video grafis / animasi / atau apapun nama yang benar : OK
Musik : OK
Pseudo Jakarta

Lainnya menurut saya kacau. Dialog dalam film serasa diterjemahkan mentah-mentah ke dalam bentuk percakapan. Lha wong untuk dialog dalam buku biasa aja dijadiin dialog film bisa aneh dan gak pas. Apalagi dialog semacam di buku KPBJ yang begitu dalam dan menggunakan berbagai kata sulit sampai dibutuhkan footnote. Benar saja, dialog-dialog antar pemeran jadi kaku dan absurd. Karena kaku, jadinya datar. Kejadian-kejadian yang pas bacanya rasanya kebawa perasaan, di film rasanya perasaan tidak tergerak sama sekali. Beberapa dialog yang it's not supposed to be funny, malah jadi diketawain seperti saat Rana berdialog dalam hati waktu ngobrol sama Arwin, atau saat Rana merasa diperkosa saat akan bercinta dengan suaminya sendiri. Seharusnya bagian cerita itu menjadi sesuatu yang dramatis, ini malah jadi humor. Ketidaktepatan dialog jadi fatal dan berpengaruh ke seluruh film. Jadi boring. Untuk castnya sendiri juga menurut saya gak pas, kesannya ketuker tuker. Herjunot Ali sebagai Ferre rasanya kurang berkharisma sebagai pengusaha sukses yang dandy. Malah perasaan Ferre lebih pas diperankan oleh Fedi Nuril yang disini jadi Arwin. Tadinya saya kira yang jadi Diva adalah Raline. Diva menurut saya adalah karakter terkuat dalam buku. Selain dia sang supernova, kontradiksi dalam hidupnya bikin Diva punya karakter yang tidak biasa. Manalagi peran Diva berlanjut di buku supernova yang lain. Secara casing, Paula Verhoeven memang cantik, tinggi, model banget, sesuai dengan definisi fisik seorang Diva. Tapi karakternya gak kuat, ngomongnya beribet, udahlah dialognya kayak gitu. Lebih pas diperankan Raline.
Diva

Tapi konsep pseudo Jakarta cerdas. Secara visual, KPBJ memang memanjakan mata penonton. Sampai saat ini, film dari buku Dewi Lestari yang bagus dan bahkan saling melengkapi dengan bukunya hanya Perahu Kertas. Btw, itu komplek perumahan Diva sama Ferre dimana ya? Pantai Indah Kapuk punyanya Feni Rose??? Hahaha..

Too bad two stars :(



PENDEKAR TONGKAT EMAS

Pendekar Dara

Film ini hillariousssssss! Bagus banget sampe klepek-klepek. It's been a long time since i'm excited about a movie. Dulu jaman ada apa dengan cinta, saya selalu kumpulin hal-hal yang berkaitang dengan AADC. Sekarang juga gitu, yaaa, gak ngumpulin artikel tabloid Fantasy sih, hihi. Sekarang saya cari-cari artikel tentang PTE, ngepoin instagram pemain-pemainnya, cari video-video wawancaranya, beli majalah yang ngebahas PTE. 

Sepanjang film saya berkali-kali merinding. Pemandangannya super duper indah. Walaupun sudah beberapa kali liat bocorannya dari instagram Mira Lesmana, Eva Celia, dan Nicholas Saputra, melihat pemandangan sebegitu indahnya di sepanjang film, beughhhh, merinding banget liatnya. Baguuuuus.
Eva Celia dari Instagram Mirles
satu dari sekian breathtaking view

Dialog-dialognya juga indah dan dalemmmm sekali. Tidak heran, ternyata ada Seno Gumira Ajidarma di balik rangkaian indah kata-katanya. Walaupun memakai Bahasa Indonesia yang baku, tapi dialog penuh makna mengalir indah sekali. Apalagi dialog ini keluar secara pas dari mulut pemainnya, terutama Christine Hakim. Pemainnya pun begitu indah membawakan peran masing-masing. Christine Hakim, Reza Rahardian, Slamet Rahardjo, dan Nicholas Saputra jelas membawakan peran dengan stunning sekali. Namun secara mengejutkan Eva Celia dan Tara Basro juga menyempurnakan film ini. Musiknya pun semakin bikin merinding, Erwin Gutawa gituuu. Adegan berantemnya juga seruuuu. Arah ceritanya pun walaupun sederhana tapi selalu punya kejutan. 
Cempaka dan Dara




Buat saya yang penonton awam, film ini sempurna. Da aku mah apa atuh, hihihi. Tidak seperti wartawan Tempo yang memuji basa basi di awal dan dengan "lamis"nya ngata-ngatain di tengah, membuka unsur-unsur kejutan di film, kemudian dengan sok innocent di  akhir review berkata "kita tetap harus menghargai bla bla blablablabla". 

Waktu nonton film ini, saya membatin, ini Miles habis berapa duit cobaaaa. Syutingnya di Sumba, dengan teknologi film terkini, bertabur bintang, featurnya aja Pricila Nasution. Dan benar saja, Pendekar Tongkat Emas adalah film termahal Miles. Saya jadi ikut degdegan, jangan sampe film sebagus ini cuma naik layar sebentar saja. Awalnya ada rasa bahwa saya wajib nonton film PTE karena Mirles menjanjikan AADC 2 kalo film ini meledak. Antara yakin dan engga sih kalo AADC bisa dilanjutkan atau tidak. Kisah AADC sudah berakhir di 2003, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dilanjutkan, tapi takut juga kalo malah jadi gagal ceritanya. Namun, waktu liat wawancara Miles bahwa konsep lanjutan AADC sudah berputar-putar di kepalanya sekian lama, maka saya hanya yakin saja akan kejeniusan Mira Lesmana dan Riri Riza. JENIUS!!
Pendekar PHP

Nah, cerita yang diperankan Nicholas Saputra endingnya mirip-miriplah sama Rangga. PHP. Jago bangetlah Nicholas ini PHPnya. Biasanya saya ngeliatin instagramnya Nicholas Saputra itu ya liat pemandangan-pemandangan ciamik hasil dari dia travelling. Setelah ditamat-tamatin, seringkali di foto dia travelling, ternyata ada sosok cewek yang gak keliatan dia siapa, ganti ganti gitu tapi bikin penasaran aaaaaa. Kayaknya ada Tara Basro, ada Eva Celia juga. Hahaha, aseli master PHP, untung ganteng kamuuuuu. Udah lama juga saya gak involved sama pemain-pemain film, tapi Pendekar Tongkat Emas ini paket yang lengkap, yang mengangkat pemain-pemain keren (atau tadinya gak keliatan keren tapi sekarang jadi keren ;p). Akhirnya saya bisa melihat ternyata Reza Rahadian itu ganteng, Tara Basro seksi sekali, dan Eva Celia, owww, cantik, buku-bukunya keren, bajunya lucuk, kewl sekali kalo main musik,. Aku demam #PendekarTongkat Emas

5 Stars!!!






Seperti kata Dewi Irawan dalam FFI 2014, ayo nonton Film Indonesia di bioskop. Jangan tunggu di TV, jangan tunggu DVDnya. #BanggaFilmIndonesia
.
#BanggaFilmIndonesia

Saya ini orangnya selera lokal. Dari buku sampai film, saya lebih suka dengan aseli buatan Indonesia. Tahun 2003 saya tergila-gila dengan Ada Apa Dengan Cinta. Sederetan film karya Mira Lesmana, Lola Amaria, Nia Dinata, Alenia, dan beberapa karya Hanung membuat saya tambah suka sama Film Indonesia. Sayangnya film-film bagus seperti Sokola Rimba, Minggu Pagi di Victoria Park, What They Don't Talk About When They Talk About Love, Selamat Pagi Malam, Serdadu Kumbang, Cahaya Dari Timur : Beta Maluku, dan sederetan film keren lainnya masih kalah sama film horor mesum. Sesuatu yang tidak masuk akal buat saya. Mungkin mereka-mereka yang bereaksi seperti api terhadap bensin sewaktu tahu tidak ada Kementerian Ekonomi Kreatif, yang mana mungkin mereka setengah mati ingin ekonomi kreatif berjaya, malah tidak pergi ke bioskop untuk menghidupi Film Indonesia. Sebagai orang yang bertahun-tahun merindukan bioskop dan tidak bisa ke bioskop, saya berusaha memiliki DVD original film-film Indonesia yang bagus sebagai bentuk partisipasi kecil saya (yang sekarang entah dimana keberadaannya gara-gara kebanyakan pindahan T^T). Karna sekarang udah deket bioskop, jadilah itu dikit-dikit bawaannya ke bioskop mulu, hihihi. Beberapa minggu ini saya menonton 3 film Indonesia, dan saya bermaksud bikin review ala-ala. Here we go.....

7/24
super cute Diandra Paramitha Sastrowardoyo

She's come back!! My lovey-dovey-pretty-sisty Dian Sastowardoyo kembali ke layar lebar. Kali ini Dian main di film dengan genre komedi dan beradu akting dengan Lukman Sardi. Oke, nama Dian Sastro dan Lukman Sardi sudah jadi satu jaminan tersendiri buat saya. Memang dari awal ekspektasi saya gak terlalu tinggi sih. Saya gak berharap saya bakal ketawa ngakak-ngakak kayak waktu liat Punk In Love. Sutradaranya juga bukan yang termasuk favorit, diproduksi sama MNC pula. Maka saya datang ke bioskop atas nama kangen liat wajah cantik Dian Sastro.

Untuk sekedar ngelepas lelah sih, film ini oke. Hiburan di tengah rutinitas rumah tangga atau kantor. Yup, sasaran pasar film ini memang pasutri yang selama ini memang gak pernah "dibikinin" film khusus buat mereka. 7/24 bercerita tentang kehidupan suami istri dengan segala rutinitas dan kesibukannya. Saking sibuknya, sampe si pasutri ini sakit bareng, dan 7 hari 24 jam dimana mereka dirawat bareng, merupakan waktu terpanjang mereka benar-benar berkomunikasi. Dalam 7 hari 24 jam tersebut terjadi banyak hal konyol, mengharukan, dan sedih yang jadi puncak konflik. Di luar akting bagus Lukman Sardi dan Dian Sastro yang berhasil bikin senyum-senyum, sumpah film ini ganggu banget. Iklan colongannya keterlaluan banyaknya, dan semua produk MNC. Belum lagi lubang disana sini, misalnya infus yang tiba-tiba hilang dan pergantian adegan yang tidak rapi dan membingungkan. Bintang dari Indonesian Idol pada ngikut. Untung aja Hary Tanoe gak tiba-tiba nongol atau untung setting cerita kerjanya bukan TPI yang berantem sama MNC XD. 

Btw, film ini cocok buat pasutri yang udah lama ga ke bioskop karena tetek bengek kesibukan rumah tangga sebagai ayah, sebagai bunda, sebagai suami, sebagai istri, menantu, dan sebagainya. Ini waktunya jadi sepasang kekasih, grab some popcorn dan pergilah ke bioskop.

Three Stars




SUPERNOVA : KESATRIA, PUTRI, DAN BINTANG JATUH


Mengadaptasi buku menjadi film sudah jadi tren tidak hanya di Indonesia. Beberapa film diadaptasi dengan cukup baik. Waktu saya baca Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya sama sekali tidak terbayang bagaimana jadinya jika dia difilmkan. Bahkan bilang kalo ini buku gak mungkin bisa difilmin. Kalo lanjutan supernova yaitu Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang saya masih bisa bayangin. Buku-buku Dewi Lestari tidak sekedar  berisi cerita, tapi kental dengan filosofi. Itulah kenapa saya rasa bakal susah sekali memvisualkan buku Dee.

Ketika tau KPBJ akan difilmkan, saya udah ragu ragu. Mau digimanain dialog Reuben dan Dimas yang sebegitu dalam? Bagaimana pembicaraan Diva dengan kliennya yang  lagi ngomongin ekonomi? Bagaimana supernova berwujud? Bagaimana irisan universe diantara tokoh-tokoh di dalamnya? Saya udah ga niat liat karena takut kecewa. Toh waktu tau supernova mau difilmkan, saya masih di Banda Aceh, ga ada bioskop cyiiin. Namun apalah daya, anak gawul twitter ga tahan godaan. Sekaligus penasaran bakal kayak gimana KPBJ kalo difilmin.

Setting tempat : OK
Video grafis / animasi / atau apapun nama yang benar : OK
Musik : OK
Pseudo Jakarta

Lainnya menurut saya kacau. Dialog dalam film serasa diterjemahkan mentah-mentah ke dalam bentuk percakapan. Lha wong untuk dialog dalam buku biasa aja dijadiin dialog film bisa aneh dan gak pas. Apalagi dialog semacam di buku KPBJ yang begitu dalam dan menggunakan berbagai kata sulit sampai dibutuhkan footnote. Benar saja, dialog-dialog antar pemeran jadi kaku dan absurd. Karena kaku, jadinya datar. Kejadian-kejadian yang pas bacanya rasanya kebawa perasaan, di film rasanya perasaan tidak tergerak sama sekali. Beberapa dialog yang it's not supposed to be funny, malah jadi diketawain seperti saat Rana berdialog dalam hati waktu ngobrol sama Arwin, atau saat Rana merasa diperkosa saat akan bercinta dengan suaminya sendiri. Seharusnya bagian cerita itu menjadi sesuatu yang dramatis, ini malah jadi humor. Ketidaktepatan dialog jadi fatal dan berpengaruh ke seluruh film. Jadi boring. Untuk castnya sendiri juga menurut saya gak pas, kesannya ketuker tuker. Herjunot Ali sebagai Ferre rasanya kurang berkharisma sebagai pengusaha sukses yang dandy. Malah perasaan Ferre lebih pas diperankan oleh Fedi Nuril yang disini jadi Arwin. Tadinya saya kira yang jadi Diva adalah Raline. Diva menurut saya adalah karakter terkuat dalam buku. Selain dia sang supernova, kontradiksi dalam hidupnya bikin Diva punya karakter yang tidak biasa. Manalagi peran Diva berlanjut di buku supernova yang lain. Secara casing, Paula Verhoeven memang cantik, tinggi, model banget, sesuai dengan definisi fisik seorang Diva. Tapi karakternya gak kuat, ngomongnya beribet, udahlah dialognya kayak gitu. Lebih pas diperankan Raline.
Diva

Tapi konsep pseudo Jakarta cerdas. Secara visual, KPBJ memang memanjakan mata penonton. Sampai saat ini, film dari buku Dewi Lestari yang bagus dan bahkan saling melengkapi dengan bukunya hanya Perahu Kertas. Btw, itu komplek perumahan Diva sama Ferre dimana ya? Pantai Indah Kapuk punyanya Feni Rose??? Hahaha..

Too bad two stars :(



PENDEKAR TONGKAT EMAS

Pendekar Dara

Film ini hillariousssssss! Bagus banget sampe klepek-klepek. It's been a long time since i'm excited about a movie. Dulu jaman ada apa dengan cinta, saya selalu kumpulin hal-hal yang berkaitang dengan AADC. Sekarang juga gitu, yaaa, gak ngumpulin artikel tabloid Fantasy sih, hihi. Sekarang saya cari-cari artikel tentang PTE, ngepoin instagram pemain-pemainnya, cari video-video wawancaranya, beli majalah yang ngebahas PTE. 

Sepanjang film saya berkali-kali merinding. Pemandangannya super duper indah. Walaupun sudah beberapa kali liat bocorannya dari instagram Mira Lesmana, Eva Celia, dan Nicholas Saputra, melihat pemandangan sebegitu indahnya di sepanjang film, beughhhh, merinding banget liatnya. Baguuuuus.
Eva Celia dari Instagram Mirles
satu dari sekian breathtaking view

Dialog-dialognya juga indah dan dalemmmm sekali. Tidak heran, ternyata ada Seno Gumira Ajidarma di balik rangkaian indah kata-katanya. Walaupun memakai Bahasa Indonesia yang baku, tapi dialog penuh makna mengalir indah sekali. Apalagi dialog ini keluar secara pas dari mulut pemainnya, terutama Christine Hakim. Pemainnya pun begitu indah membawakan peran masing-masing. Christine Hakim, Reza Rahardian, Slamet Rahardjo, dan Nicholas Saputra jelas membawakan peran dengan stunning sekali. Namun secara mengejutkan Eva Celia dan Tara Basro juga menyempurnakan film ini. Musiknya pun semakin bikin merinding, Erwin Gutawa gituuu. Adegan berantemnya juga seruuuu. Arah ceritanya pun walaupun sederhana tapi selalu punya kejutan. 
Cempaka dan Dara




Buat saya yang penonton awam, film ini sempurna. Da aku mah apa atuh, hihihi. Tidak seperti wartawan Tempo yang memuji basa basi di awal dan dengan "lamis"nya ngata-ngatain di tengah, membuka unsur-unsur kejutan di film, kemudian dengan sok innocent di  akhir review berkata "kita tetap harus menghargai bla bla blablablabla". 

Waktu nonton film ini, saya membatin, ini Miles habis berapa duit cobaaaa. Syutingnya di Sumba, dengan teknologi film terkini, bertabur bintang, featurnya aja Pricila Nasution. Dan benar saja, Pendekar Tongkat Emas adalah film termahal Miles. Saya jadi ikut degdegan, jangan sampe film sebagus ini cuma naik layar sebentar saja. Awalnya ada rasa bahwa saya wajib nonton film PTE karena Mirles menjanjikan AADC 2 kalo film ini meledak. Antara yakin dan engga sih kalo AADC bisa dilanjutkan atau tidak. Kisah AADC sudah berakhir di 2003, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dilanjutkan, tapi takut juga kalo malah jadi gagal ceritanya. Namun, waktu liat wawancara Miles bahwa konsep lanjutan AADC sudah berputar-putar di kepalanya sekian lama, maka saya hanya yakin saja akan kejeniusan Mira Lesmana dan Riri Riza. JENIUS!!
Pendekar PHP

Nah, cerita yang diperankan Nicholas Saputra endingnya mirip-miriplah sama Rangga. PHP. Jago bangetlah Nicholas ini PHPnya. Biasanya saya ngeliatin instagramnya Nicholas Saputra itu ya liat pemandangan-pemandangan ciamik hasil dari dia travelling. Setelah ditamat-tamatin, seringkali di foto dia travelling, ternyata ada sosok cewek yang gak keliatan dia siapa, ganti ganti gitu tapi bikin penasaran aaaaaa. Kayaknya ada Tara Basro, ada Eva Celia juga. Hahaha, aseli master PHP, untung ganteng kamuuuuu. Udah lama juga saya gak involved sama pemain-pemain film, tapi Pendekar Tongkat Emas ini paket yang lengkap, yang mengangkat pemain-pemain keren (atau tadinya gak keliatan keren tapi sekarang jadi keren ;p). Akhirnya saya bisa melihat ternyata Reza Rahadian itu ganteng, Tara Basro seksi sekali, dan Eva Celia, owww, cantik, buku-bukunya keren, bajunya lucuk, kewl sekali kalo main musik,. Aku demam #PendekarTongkat Emas

5 Stars!!!






Seperti kata Dewi Irawan dalam FFI 2014, ayo nonton Film Indonesia di bioskop. Jangan tunggu di TV, jangan tunggu DVDnya. #BanggaFilmIndonesia
.

Selasa, 16 Desember 2014

10 Tahun Cak Munir, the Assassination

Dalam perjalanan dengan kereta api, saya selalu menyempatkan membeli majalah walaupun sudah membawa satu dua buah buku. Perjalanan tempo hari, ketika saya menelusur jajaran majalah, alih-alih memilih majalah fashion seperti biasanya, mata saya terhenti pada ilustrasi wajah Munir pada edisi khusus majalah Tempo. Maka saya pun memilih majalah Tempo untuk menemani perjalanan Malang-Jakarta

Membaca edisi khusus Tempo tentang Munir Said Thalib perasaan saya teraduk-aduk.

Saya memang tidak mengikuti perkembangan kasus Munir. Bahkan saya tidak pernah mendengar sepak terjang Munir sebelum ia meninggal di udara.

Saya paham bahwa melihat kasus Munir, tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Kasus ini begitu kompleks dan jauh dari sederhana. Saya paham ada beragam kepentingan ada dalam pusaran ini.
Bahwa Munir memiliki kepentingan.
Bahwa media sekelas Tempo memiliki kepentingan.
Bahwa pemerintah dan penguasa memiliki kepentingan.
Bahwa sejarah negeri ini begitu rumit dan kompleks.
Bahwa ada beberapa hal yang memang lebih baik berada dalam kotak pandora.
Bahwa ada beberapa hal yang jika diungkapkan akan mendatangkan kerusakan serupa catatan sejarah.
Bahwa aktivis pun memiliki kepentingan.
Bahwa sejarah ditulis oleh pemenang, dan negara ini memiliki sejarah yang begitu rumit. Yang ditulis A tidak selalu A, yang B tidak selalu B.

Tapi tetap saja perasaan itu campur aduk. Ada yang bilang bahwa Munir "menjual negara". Mengetahui informasi yang bila disebarluaskan, potensi hal mengerikan akan terjadi begitu besar. Tapi banyak yang bilang, dengan segala keberaniannya yang tak masuk akal, ia adalah satu dari sedikit orang yang memperjuangkan sesuatu yang selama 3 dekade dianggap murah oleh penguasa. Tapi yang jelas, sejarah mencatat ia mati sebagai pejuang.

Mengapa perasaan saya begitu teraduk-aduk?

Saya ngeri membayangkan carut marutnya pengaturan negeri ini selama 3 dekade yang penuh dengan kisah hitam tak terkuak. Bergidik membaca tentang proses peradilan pembunuhan Munir, tentang daftar kematian penuh tanda tanya orang-orang yang menjadi saksi kunci. Bergidik ketika bertanya, bagaimana jika semua ini benar. Benar adanya sehitam ini hukum yang ada. Sama ngerinya membayangkan jika semua ini rekayasa. Apa yang terlihat tidak seperti kenyataannya. Membaca tentu sepaket dengan visualisasi. Maka pun otak saya, memvisualisasikan pembicaraan-pembicaraan yang ditulis, memvisualisasi pengetikan surat rekomendasi pollycarpus yang disangkal semua orang tapi nyata surat itu ada, memvisualisasikan perencanaan eksekusi, memvisualisasikan bagaimana arsenik ditaburkan, memvisualisasikan kejadian di pesawat, memvisualisasikan kesakitan Munir atas reaksi arsenik, sendirian, kemudian menghembuskan nafas terakhir di langit Rumania. Semua begitu mengerikan. Tidak semudah mengatakan, "sayang sekali, beberapa orang memang seharusnya tidak ada, karena keberadaannya dapat menimbulkan efek yang mengerikan".


Membaca tentang Munir, saya tidak akan berspekulasi, apa yang sebenarnya dia perjuangkan, kepentingan apa yang dia bawa, apa yang belum terungkap. Saya hanya merasa akrab atas keberanian Munir yang luar biasa. Keberanian khas Arek Malang.

Membaca artikel demi artikel berkali kali membuat saya bergumam "How could?" dan "What If...". Namun sampai pada artikel tentang anak-anak Munir, kacamata berbagai spekulasi lepas seketika. Kemudian memandang kisah ini dari satu sudut pandang saja. Kemanusiaan. 

Dunia mungkin tidak hitam dan putih. Itulah yang tidak masuk dalam logika saya yang mungkin naif ini. Bagaimana bisa manusia-manusia yang terlibat dalam kisah yang rumit ini, bisa hidup dalam dunia yang abu-abu. Bagaimana bisa mereka tidur.

Satu yang pasti, Munir menginspirasi perjuangan bagi banyak orang, Munir membakar semangat banyak orang. Seperti yang dilantunkan Efek Rumah Kaca pada lagu Di Udara
"Aku bisa diracun di udara"
"Tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti"

Siapapun yang dulu berniat menghentikan sesuatu dengan membunuh Munir, maka ia salah. Mungkin ada rahasia-rahasia yang hilang tidak tersampaikan. Ada kejadian-kejadian yang tercegahkan. Tapi Munir's effect nampaknya tidak akan berhenti dan tidak mati. 

Duh, tidakkah bisa dunia ini dijalankan secara sederhana. Tanpa ada ketakutan rumit yang dibayang-bayangkan. Atau mungkin sudah terlalu lama kita mengatasi masalah dengan kerumitan dalam bentuk kekerasan. Tiga dekade tentu bukan waktu yang singkat. Yang sayang sekali kekelaman itu kini seakan tinggal menyisakan meme "penak jamanku" to? Lupa bahwa efek destruktifnya masih menyisa mendarah daging hingga sekarang, tanpa disadari.





Dalam perjalanan dengan kereta api, saya selalu menyempatkan membeli majalah walaupun sudah membawa satu dua buah buku. Perjalanan tempo hari, ketika saya menelusur jajaran majalah, alih-alih memilih majalah fashion seperti biasanya, mata saya terhenti pada ilustrasi wajah Munir pada edisi khusus majalah Tempo. Maka saya pun memilih majalah Tempo untuk menemani perjalanan Malang-Jakarta

Membaca edisi khusus Tempo tentang Munir Said Thalib perasaan saya teraduk-aduk.

Saya memang tidak mengikuti perkembangan kasus Munir. Bahkan saya tidak pernah mendengar sepak terjang Munir sebelum ia meninggal di udara.

Saya paham bahwa melihat kasus Munir, tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Kasus ini begitu kompleks dan jauh dari sederhana. Saya paham ada beragam kepentingan ada dalam pusaran ini.
Bahwa Munir memiliki kepentingan.
Bahwa media sekelas Tempo memiliki kepentingan.
Bahwa pemerintah dan penguasa memiliki kepentingan.
Bahwa sejarah negeri ini begitu rumit dan kompleks.
Bahwa ada beberapa hal yang memang lebih baik berada dalam kotak pandora.
Bahwa ada beberapa hal yang jika diungkapkan akan mendatangkan kerusakan serupa catatan sejarah.
Bahwa aktivis pun memiliki kepentingan.
Bahwa sejarah ditulis oleh pemenang, dan negara ini memiliki sejarah yang begitu rumit. Yang ditulis A tidak selalu A, yang B tidak selalu B.

Tapi tetap saja perasaan itu campur aduk. Ada yang bilang bahwa Munir "menjual negara". Mengetahui informasi yang bila disebarluaskan, potensi hal mengerikan akan terjadi begitu besar. Tapi banyak yang bilang, dengan segala keberaniannya yang tak masuk akal, ia adalah satu dari sedikit orang yang memperjuangkan sesuatu yang selama 3 dekade dianggap murah oleh penguasa. Tapi yang jelas, sejarah mencatat ia mati sebagai pejuang.

Mengapa perasaan saya begitu teraduk-aduk?

Saya ngeri membayangkan carut marutnya pengaturan negeri ini selama 3 dekade yang penuh dengan kisah hitam tak terkuak. Bergidik membaca tentang proses peradilan pembunuhan Munir, tentang daftar kematian penuh tanda tanya orang-orang yang menjadi saksi kunci. Bergidik ketika bertanya, bagaimana jika semua ini benar. Benar adanya sehitam ini hukum yang ada. Sama ngerinya membayangkan jika semua ini rekayasa. Apa yang terlihat tidak seperti kenyataannya. Membaca tentu sepaket dengan visualisasi. Maka pun otak saya, memvisualisasikan pembicaraan-pembicaraan yang ditulis, memvisualisasi pengetikan surat rekomendasi pollycarpus yang disangkal semua orang tapi nyata surat itu ada, memvisualisasikan perencanaan eksekusi, memvisualisasikan bagaimana arsenik ditaburkan, memvisualisasikan kejadian di pesawat, memvisualisasikan kesakitan Munir atas reaksi arsenik, sendirian, kemudian menghembuskan nafas terakhir di langit Rumania. Semua begitu mengerikan. Tidak semudah mengatakan, "sayang sekali, beberapa orang memang seharusnya tidak ada, karena keberadaannya dapat menimbulkan efek yang mengerikan".


Membaca tentang Munir, saya tidak akan berspekulasi, apa yang sebenarnya dia perjuangkan, kepentingan apa yang dia bawa, apa yang belum terungkap. Saya hanya merasa akrab atas keberanian Munir yang luar biasa. Keberanian khas Arek Malang.

Membaca artikel demi artikel berkali kali membuat saya bergumam "How could?" dan "What If...". Namun sampai pada artikel tentang anak-anak Munir, kacamata berbagai spekulasi lepas seketika. Kemudian memandang kisah ini dari satu sudut pandang saja. Kemanusiaan. 

Dunia mungkin tidak hitam dan putih. Itulah yang tidak masuk dalam logika saya yang mungkin naif ini. Bagaimana bisa manusia-manusia yang terlibat dalam kisah yang rumit ini, bisa hidup dalam dunia yang abu-abu. Bagaimana bisa mereka tidur.

Satu yang pasti, Munir menginspirasi perjuangan bagi banyak orang, Munir membakar semangat banyak orang. Seperti yang dilantunkan Efek Rumah Kaca pada lagu Di Udara
"Aku bisa diracun di udara"
"Tapi aku tak pernah mati, tak akan terhenti"

Siapapun yang dulu berniat menghentikan sesuatu dengan membunuh Munir, maka ia salah. Mungkin ada rahasia-rahasia yang hilang tidak tersampaikan. Ada kejadian-kejadian yang tercegahkan. Tapi Munir's effect nampaknya tidak akan berhenti dan tidak mati. 

Duh, tidakkah bisa dunia ini dijalankan secara sederhana. Tanpa ada ketakutan rumit yang dibayang-bayangkan. Atau mungkin sudah terlalu lama kita mengatasi masalah dengan kerumitan dalam bentuk kekerasan. Tiga dekade tentu bukan waktu yang singkat. Yang sayang sekali kekelaman itu kini seakan tinggal menyisakan meme "penak jamanku" to? Lupa bahwa efek destruktifnya masih menyisa mendarah daging hingga sekarang, tanpa disadari.





 
Senyum Merah Muda Copyright © 2012 Design by Ipietoon; Managed by NugrohoDM